Potret Kehidupan Anak-Anak Asmat

Walaupun kondisi luar biasa campak dan kurang gizi telah dicabut, keadaan kesehatan warga masih mengenaskan.
Ryu Zaki & Keisyah Aprilia
2018.07.26
Agats & Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Asmat-5.jpg

Seorang anak menggendong adiknya di Kampung Tomor, Asmat, 22 Juli 2018. (Ryu Zaki/BeritaBenar)

Asmat-3.jpg

Seorang ibu bersama empat anaknya yang mengalami kekurangan gizi di Kampung Tomor, Asmat, Papua, 22 Juli 2018. (Ryu Zaki/BeritaBenar)

Asmat-1.jpg

Ibu-ibu dan anak-anak mereka di jalan kayu yang menghubungkan rumah-rumah mereka di Kampung Tomor, 22 Juli 2018. [Ryu Zaki/BeritaBenar]

Asmat-4.jpg

Sejumlah warga berdiri di antara rumah panggung mereka, di Kampung Tomor, Asmat, Papua, 22 Juli 2018. (Ryu Zaki/BeritaBenar)

Asmat-7.jpg

Anak-anak Amat di Kampung Tomor masih banyak menderita kurang gizi, 22 Juli 2018. [Ryu Zaki/BenarNews]

Asmat-8.jpg

Tiga anak sedang mandi sungai, di Kampung Tomor, Asmat, Papua, 22 Juli 2018. (Ryu Zaki/BeritaBenar)

asmat-7.jpg

Lokasi Desa Tortor di Kabupaten Asmat, Papua. (BeritaBenar)

Kampung Tomor di Kabupaten Asmat, Papua, terletak di wilayah berawa-rawa yang dikelilingi sungai, di tengah hutan tropis yang masih asri.

Penduduknya yang berjumlah sekitar 500 jiwa menggantungkan hidup dari alam. Kampung ini berjarak sekitar 100 kilometer dari Agats, ibukota Asmat, dan ditempuh dengan speed boat.

Letaknya yang sulit dijangkau dan penduduknya yang masih nomaden, membuat mereka sulit mendapatkan akses kesehatan di propinsi yang memiliki angka kemiskinan relatif tinggi itu.

Pada bulan Januari lalu, Kementerian Kesehatan mencatat 646 anak terkena campak dan 144 gizi buruk. Sebanyak 72 anak meninggal. Kejadian tersebut menyebabkan Asmat dinyatakan dalam kondisi luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk.

Tenaga kesehatan, personil TNI, dan Polri dikerahkan untuk mengatasi keadaan tersebut. Awal Februari pemerintah menyatakan keadaan KLB telah terkendali.

Namun sejumlah masyarakat disana mengakui belum menerima pelayanan kesehatan, seperti apa yang dinyatakan penduduk lokal, Donatus.

“Kami hanya bisa pasrah. Harapan besar diperhatikan pemerintah,” tutur Donatus yang sehari-hari bekerja sebagai pemburu di hutan, kepada BeritaBenar. Laki-laki, 42 tahun itu kehilangan tiga anaknya akibat campak.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.