Ketika Musim Layangan Tiba di Bali

Anton Muhajir
2016.07.27
Denpasar
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Layangan1.JPG

Peserta mencoba suara guangan yang merupakan salah satu bagian penting dari layangan janggan. (Anton Muhajir/BeritaBenar

Layangan2.JPG

Anggota kelompok menarik tali dan menggulungnya agar layangan bisa mengudara dengan baik. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan4.JPG

Layangan bebean mengudara dengan nomor peserta untuk memudahkan penilaian. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan5.JPG

Seorang juri memperhatikan layangan jenis bebean untuk dinilai. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan6.JPG

Janggan dengan ekor antara 60 sampai 250 meter merupakan jenis paling bergengsi. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan7.JPG

Tapel berupa kepala naga merupakan bagian paling sakral pada layangan janggan. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan8.JPG

Dengan panjang sampai 250 meter, ekor layangan janggan harus dibawa banyak orang. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan9.JPG

Pemain gamelan ikut memberikan semangat kepada anggota timnya. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Layangan10.JPG

Seorang penonton menikmati lomba layangan di Pantai Padanggalak, Bali. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Peralihan musim hujan ke kemarau menjadi masa jeda bagi petani di Bali. Mereka beristirahat, sambil menunggu waktu untuk menanam tanaman yang lebih tahan cuaca kering, seperti jagung dan palawija. Saat itu juga lahan kosong menjadi tempat bermain bagi anak-anak.

Juli hingga Agustus ialah puncak musim layangan di Bali. Pada musim itu, salah satu perayaan paling ditunggu adalah lomba layang-layang oleh Persatuan Layang-Layang Bali (Pelangi). Tahun ini, lomba layang terbesar dan paling bergengsi di Bali digelar tiga hari, Jumat hingga Minggu, 22 -24 Juli 2016.

Hampir seribu peserta ikut lomba yang digelar di Pantai Padanggalak, Sanur. Ratusan layang beragam jenis mengangkasa di pantai sisi timur Denpasar itu. “Asyiknya main layangan pada kebersamaannya dengan teman-teman,” kata Wayan Putra, peserta dari Desa Sidakarya, Denpasar Selatan.

Dalam catatan panitia, terdapat 985 peserta dari berbagai daerah di Bali. Pada hari terakhir, 526 layang-layang mengudara dari beragam jenis.

Ada empat jenis layang yang dilombakan yaitu pecukan, bebean, janggan, dan kreasi. Layangan pecukan berbentuk segi empat menekuk elips atau pecuk dalam bahasa Bali. Bebean berbentuk ikan atau be. Janggan seperti naga. Adapun kreasi biasanya bermacam-macam, termasuk binatang, manusia, dan seterusnya.

Di antara keempat jenis layangan itu, janggan paling bergengsi. Dengan ekor 60-an sampai 250 meter, layangan ini memang paling besar. Saat mengudara, ekor warna-warninya terlihat seperti menari.

“Biaya pembuatannya paling murah Rp 15 juta,” ungkap Eka Dirgantara, peserta dari Banjar Abian Kapas Kaja, Denpasar. Dia dan temannya membawa empat layangan yaitu dua bebean dan dua janggan.

Ketut Sudiana, seorang juri, mengatakan gerakan ekor janggan termasuk salah satu hal yang dinilai dalam lomba. Faktor lain adalah warna-warni ekor, lurus tidaknya benang saat ditarik, hingga ketenangan layangan saat mengudara.

Sebagai kegiatan tahunan, lomba laya­­­­­­­ng-layang selalu menarik ribuan penonton baik warga lokal maupun turis

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.