Wayang Untuk Menangkal Radikalisme

Oleh Maeswara Palupi
2015.06.05
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150605_MAESWARA_ISMIRA2_ID_WAYANG_700.jpg Dalang Ki Joko Santoso memainkan wayang kulit di Universitas Indonesia di Jakarta, 4 April 2013.
BeritaBenar

Penasihat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Prof. Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan budaya lokal seperti wayang kulit bisa digunakan untuk menangkal paham radikalisme yang sekarang berkembang dalam masyarakat.

"Budaya asing yang buruk seperti ISIS [Negara Islam Irak dan Suriah] sudah menghancurkan sistem kemasyarakatan kita dan melunturkan nilai toleransi,” katanya kepada BeritaBenar di kantornya tanggal 4 Juni, 2015.

“Karena itu kita harus menangkal radikalisme. Upaya ini bisa dilakukan dengan budaya lokal seperti Wayang.”

Wayang adalah seni teater yang diiringi musik tradisional Jawa, gamelan.

Kesenian wayang telah ada di Indonesia selama ribuan tahun sebagai bentuk adat bercerita di Nusantara.

Cerita wayang menurut Sarlito, menggambarkan kehidupan sehari-hari, yang baik dan yang buruk. Tetapi cerita-cerita tersebut meyakinkan penonton bahwa perbuatan baik akan membawa kemenangan dan perdamaian.

Wayang merupakan budaya Jawa yang dipengaruhi oleh budaya Hindu dan mudah diterima masyarakat.

“Wayang juga yang dulu dipakai oleh Wali Songo untuk mengenalkan agama Islam di Indonesia,” tambah Sarlito yang juga merupakan Ketua Pengarah Komunitas Wayang Universitas Indonesia (UI).

Wali Songo [sembilan wali] adalah penyebar agama Islam di Jawa pada abad ke 14.

Belajar Islam yang Lembut dari Wayang

Pengamat wayang, Ibnu Suwondo mengatakan wayang adalah budaya bangsa yang sekaligus merupakan kearifan lokal.

Budaya ini sudah mulai meluntur dan tidak diketahui oleh sebagian anak-anak muda Indonesia.

“Generasi muda sebaiknya mengenal dan mempelajari lagi cerita Wayang yang merupakan kearifan lokal budaya Indonesia,” kata Ibnu kepada BeritaBenar.

Ibnu mengatakan jika wayang dulu digunakan oleh Wali Songo untuk menyebarkan ajaran agama Islam, ini membuktikan bahwa para ulama dahulu menyebarkan Islam tidak melalui kekerasan, namum melalui budaya lokal.

“Tidak seperti yang sedang dilakukan oleh ISIS. Mereka menyebarkan ajaran dengan kekerasan,” ujar Ibnu kepada BeritaBenar di Jakarta, tanggal 4 Juni.

Menurut Ibnu, Agama Islam dan budaya bangsa Indonesia, seperti wayang memiliki banyak kesamaan.

“Kenalilah budaya bangsamu, dalamilah ajaran nilai lokal di daerahmu,” katanya sambil menjelaskan bahwa Islam dan wayang mempunyai kesamaan dalam mengajarkan toleransi, saling menghormati, dan juga tolong menolong.

Mengenalkan kepada generasi muda

Ketua Yayasan Amalia, sebuah Lembaga yang menangani edukasi anak di Jakarta, Agus Syafii mengatakan potensi pengembangan budaya lokal Indonesia untuk menangkal radikalisme sangat tinggi, tetapi harus dikenalkan mulai sekarang.

“Banyak budaya kita yang telah luntur. Wayang adalah satu diantaranya. Karena itu menggunakan wayang untuk menangkal radikalisme mempunyai dua nilai positif,” kata Agus sambil menjelaskan bahwa upaya ini akan juga bisa membangkitkan seni tradisional.

“Tetapi cerita wayang harus mengikuti era masa kini supaya bisa diterima oleh generasi muda dan tidak membosankan,” katanya lanjut.

Pertunjukan wayang menurut Sarlito tidak perlu digelar semalaman, bisa dipersingkat asal pesan mengena dalam masyarakat, katanya.

Sarlito mengakui bahwa seni rakyat mungkin perlu beberapa modifikasi dan sentuhan modern dalam rangka untuk membuatnya lebih menarik bagi generasi muda.

"Tapi memodifikasi boneka tradisional harus kontekstual dengan situasi saat ini, termasuk bagaimana cerita wayang bisa digunakan untuk menangkal kekerasan ISIS,” lanjut Sarlito.

Peran Dalang

Pertunjukkan wayang kulit dipimpin oleh dalang.

Dalang Ki Anom Dwi Jokangko dari Trenggalek, Jawa Timur mengatakan bahwa peran seorang dalang dalam pertunjukan Wayang Kulit sangat penting.

“Dalang harus bisa membaca situasi apakah penonton bosan, mengantuk, dan serta bagaimana menyampaikan pesan-pesan termasuk menangkal radikalisme, ini tidak mudah,” katanya kepada BeritaBenar tanggal 4 Juni sambil menjelaskan bahwa cerita wayang untuk orang dewasa dan anak-anak harus berbeda penyampaiannya, meskipun tujuannya sama.

“Dalang juga harus menguasai isi cerita dan siap untuk meluaskan cerita jika diperlukan,” katanya sambil mengatakan bahwa dalam profesinya sebagai dalang ia banyak sekali membaca buku sejarah dan isu masa kini.

Wayang dapat mengingatkan kita akan pentingnya pembinaan budi pekerti bagi generasi bangsa," Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan kepada BeritaBenar, 4 Juni.

Menurut Gus Ipul wayang mengajarkan kepada masyarakat untuk selalu taat pada nilai-nilai kebenaran.

“Silahkan bandingkan dengan kondisi di negara-negara lain, di Timur Tengah saat ini sedang kisruh, konflik yang tidak bisa diselesaikan karena tidak ada kesenian wayang” ujar Gus Ipul sambil bercanda.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.