Kaum Waria, Merindukan Ibadah Tanpa Ketakutan

Walaupun pondok pesantren mereka ditutup paksa oleh sekelompok massa Front Jihad Islam, kaum waria di Yogyakarta ini tidak menyerah untuk belajar agama.
Kusumasari Ayuningtyas
Bantul
2017-06-22
Share
170622_ID_Gender_620.jpg Sejumlah waria melaksanakan shalat berjamaah di sebuah rumah di Bantul, Yogyakarta, 18 Juni 2017
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Terbata-bata, Shinta Ratri mengeja ayat-ayat Alquran yang sedang ditekuninya. Ia tidak sendiri, tapi ditemani Ustaz Arif Nuh Safri, yang sesekali membenarkan panjang pendek harakat bacaan sambil mengingatkan hukum tajwid.

Dengan serius, Shinta berusaha memperbaiki bacaan hingga mendekati benar meski harus mengulang satu ayat beberapa kali. Keseriusan Shinta membuat Arif tergerak untuk mengajarkan ilmu agama kepada komunitas waria.

Keberadaan mereka sebagai waria dan stigma yang melekat pada kaum tersebut sering membuat mereka tidak diterima oleh masyarakat dan juga lingkungan agama. Hal ini dikuatkan oleh Arif, yang mengatakan latar belakang Shinta dan teman-temannya sesama waria menjadi faktor mereka minim ilmu agama.

“Banyak di antaranya yang memulai dari nol,” tutur Arif kepada BeritaBenar, di sela-sela mengajari mereka membaca Alquran, Minggu petang, 18 Juni 2017.

Arif mulai memberi pendampingan kepada komunitas waria di Yogyakarta sejak 2010. Ketika itu, Shinta dan temannya belum menempati lokasi sekarang di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

“Saya hanya memanusiakan manusia, mereka ini manusia dan ciptaan Allah,” ujar Arif.

Arif tidak sendiri. Bersama beberapa ustaz lain, dia mendampingi para waria. Mereka tak berbagi jadwal, tapi datang saat kegiatan rutin di tempat Shinta dilangsungkan dan agenda mereka sedang kosong.

Konsekuensi

Arif turut berbuka puasa bersama dengan komunitas waria. Menu yang disajikan dibeli dari dana iuran dan dimasak Nurya Ayu, waria lainnya yang tinggal di tempat Shinta.

Nasi, sayur lodeh terong, ikan pindang, tempe goreng, sambal ditambah kerupuk menjadi bahan santapan berbuka puasa hari itu. Meski sederhana, Arif mengaku rasanya enak.

Nurya memang dikenal jago masak dan banyak menerima pesanan dari berbagai organisasi dan universitas. Nurya yang berambut panjang dan senang memakai rok ini menuturkan kalau dia banjir pesanan di bulan Ramadan.

“Minggu ini saja dapat pesanan 500 nasi kotak untuk acara berbuka puasa,” tutur Nurya, yang telah ngekos di rumah Shinta selama enam tahun.

Dia mulai menyadari sisi kewanitaannya saat berusia 14 tahun. Meski keluarganya bisa menerimanya, tapi tidak dengan orang-orang sekitarnya.

Nurya merasa tidak nyaman berada di lingkungannya sendiri dan memilih hidup terpisah dengan keluarganya dan kos di rumah Shinta.

Serupa dengan Nurya, Eva yang berasal dari Jawa Barat sudah delapan tahun tinggal di Yogyakarta dan bergabung dengan Shinta dan rekan-rekannya. Selama itu pula dia tidak pernah menengok keluarganya di Jawa Barat.

Eva yang bekerja sebagai stylist sebuah salon kecantikan di Yogyakarta merasa nyaman bersama rekan-rekannya sesama waria di tempat Shinta.

“Saya lebih nyaman di sini,” ujar Eva sambil melihat ke sekelilingnya.

Seperti di berbagai tempat lainnya, diskriminasi menjadi konsekuensi hidup mereka sebagai waria. Perlakuan tidak menyenangkan seringkali mereka terima. Seperti dituturkan Yuni. Dia mengaku sering mendapatkan perlakuan diskriminatif saat naik kendaraan umum.

“Seringkali tidak berhenti kalau kami cegat, padahal masih kosong. Naik ojek juga sering ditolak,” kata Yuni yang menganggap kejadian tersebut sebagai hal yang lucu dan tidak terlalu memusingkannya.

“Latar belakang mereka memang unik, kondisi mereka secara pribadi masih dipandang aneh,” tutur Arif yang banyak mendengar keluhan dari Yuni, Shinta, dan rekan mereka.

Arif Nuh Safri (kanan) mengajarkan cara membaca Alquran kepada waria di Bantul, Yogyakarta, 18 Juni 2017. (Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar)

Hak paling hakiki

Beribadah kepada Tuhan adalah hak asasi manusia paling hakiki, tapi hal itu seolah tidak berlaku bagi waria yang ngekos di rumah Shinta.

Rumah Shinta yang sempat dijadikan Pondok Pesantren Waria Al Fatah pernah didatangi sekelompok massa Front Jihad Islam (FJI), setahun lalu.

Saat itu, Shinta dan teman-temannya sedang melakukan ibadah shalat Isya. Dalam surat pemberitahuan yang diserahkan FJI kepada Shinta, mereka didatangi karena ditengarai telah menyalahgunakan pesantren sebagai tempat karaoke dan minum-minuman keras.

“Padahal tuduhan itu tidak benar, tempat ini semata-mata hanya untuk beribadah,” Shinta.

Demi menghindari konflik, akhirnya Shinta dan rekan-rekannya sepakat untuk menutup pondok pesantren. Sejak itu, para waria yang menjadikan pondok sebagai tempat untuk menimba ilmu agama dan beribadah kebingungan sebab sulit bagi mereka membaurkan diri di masjid.

“Kita baru datang saja (ke masjidr) rasa-rasanya sudah salah, serba salah,” tutur Yuni.

Pada bulan keempat usai pesantren tutup, Shinta dan teman-temannya sepakat tetap beribadah di tempat Shinta meski bukan pondok pesantren lagi. Mereka mengaji secara rutin setiap hari Minggu. Selama Ramadhan, mereka mengaji dua kali seminggu.

Kegiatan diisi dengan membaca Alquran, disimak seorang ustaz atau orang yang paham cara membaca kitab suci umat Islam, dilanjutkan buka bersama dan shalat berjamaah.

Usai shalat, mereka membahas tentang apapun yang mau diketahui, terutama tentang keseharian kehidupan kaum waria. Namun Arif selalu menanggapi santai dan memberi jawaban dari sisi agama.

“Pertanyaan mereka selalu vulgar tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka dan saya jawab apa adanya, lugas saja,” ujar Arif.

Sore itu, hanya belasan waria hadir dalam buka bersama di rumah Shinta. Total waria di Yogyakarta ada sekitar 300 orang. Yang seringkali berkumpul di tempat Shinta sekitar 40-an orang.

Saat shalat berjamaah, ruangan tempat ibadah beralas karpet hanya terisi dua shaf saja. Shinta mengaku rekan-rekannya yang ikut kegiatan pengajian dan ibadah berjamaah di tempatnya semakin berkurang sejak didatangi FJI setahun lalu.

“Kami berharap pemerintah memberi perlindungan, karena bagaimanapun, orang-orang seperti kami adalah sasarannya, korbannya,” ujarnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya