Militan Indonesia Masih Berkeliaran di Yemen dan Filipina Selatan

KTP Indonesia ditemukan di kubu pro-ISIS di Yemen dalam sebuah video dan dua WNI buron di Jolo, Filipina.
Rina Chadijah dan Ronna Nirmala
2020.08.31
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
200831_ID_ISIS_Protest_1000.jpg Masyarakat melakukan protes melawan repatriasi para kombatan ISIS asal Indonesia kembali ke tanah air dengan alasan untuk keamanan di dalam negeri di Yogyakarta, 7 Februari 2020.
AFP

Diperbarui pada Selasa, 1 September 2020, 19:30 WIB

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melacak informasi keberadaan warga Indonesia yang identitasnya ditemukan dalam penyerangan kelompok Houthi ke markas kelompok ISIS di daerah Bayda, Yaman  mengatakan bahwa mereka mungkin telah pindah ke Yamen dari Suriah.

Video yang menujukkan KTP lama warga Indonesia bernama Syamsul Hadi Anwar dan uang rupiah sebelumnya viral di media social setelah diposting di Twitter oleh Faran Jeffery, seorang wakil direktur sebuah lembaga think tank penanggulangan terorisme berbasis di Inggris melalui akunnya @natsecjeff, hari Sabtu.

Kepala BNPT Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan, penemuan KTP itu menunjukkan masih adanya Foreign Terrorist Fighters (FTF) atau teroris lintas batas asal Indonesia, yang melakukan relokasi atau pindah markas baru di wilayah konflik itu.

“Video penemuan uang rupiah termasuk KTP menunjukkan bahwa FTF asal Indonesia juga melakukan relokasi daerah perang,” kata Boy, dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Senin 31 Agustus 2020.

KTP atas nama Syamsul Hadi Anwar yang beralamat di Mojokerto Jawa Tengah, ditemukan di sebuah markas ISIS di Provinsi Al Bayda Yaman, seperti diperlihatkan di akun @Natsecjeff.

Dalam KTP yang diperlihatkan militan Houthi di video tersebut, tertera alamat Syamsul berada di Perumahan Japan Raya, Jalan Basket blok NN 15, RT 1 RW 12, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Tampak pula sejumlah uang pecahan Rp 10.000, Rp 5.000 dan Rp 2.000 dalam dompet yang diyakini milik Syamsul.

Video tersebut berasal dari akun "media resmi Houthi" di Telegram dan kemungkinan diambil dalam beberapa pekan terakhir, kata Faran kepada BenarNews saat dihubungi.

Pemberontak Houthi adalah pemberontak Muslim Syiah yang didukung oleh Iran yang telah berperang melawan pemerintah di Yaman, yang mendapat dukungan dari Arab Saudi. Konflik tersebut telah berkecamuk sejak 2015, yang berujung pada krisis kemanusiaan parah.

Amerika Serikat juga telah melakukan serangan udara di Yaman yang menargetkan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) dan militan yang berafiliasi dengan ISIS, demikian menurut Council on Foreign Relations, sebuah wadah pemikir AS.

Boy Rafli mengatakan dia yakin Syamsul punya hubungan kuat dengan salah satu pimpinan kelompok teroris berpengaruh  di Suriah. Syamsul juga disebutnya memiliki nama samaran, yakni Abu Hatim Al Sundawy Al Indonesy.

"Syamsul Hadi alias Abu Hatim Al Sundawy Al Indonesy ini, orang Ibnu Mas'ud. Termasuk tokoh penting di Suriah,” kata Boy.

Menurut Boy, penyerangan kelompok Houthi ini merupakan klaim dari tentara pemerintah Yaman yang telah menyerang kelompok militan, baik yang berbasis Al-Qaeda (AQAP) dan ISIS pada pertengahan Agustus di daerah Bayda. Jumlah AQAP disebut lebih besar dari ISIS di Yaman.

“Munculnya ISIS di wilayah tersebut tidak lepas dari  protracted civil war atau perang saudara berkepanjangan di Yaman. Dengan kekalahan ISIS di Suriah dan Irak inilah yang menyebabkan sejumlah fighters melakukan relokasi," ujarnya.

Boy juga mengatakan, perpindahan para tentara ISIS dari Suriah ke Yaman tak lepas dari masih longgarnya pengawasan di perbatasan negara-negara tersebut. Data siapa saja yang masih hidup dan berpindah yang tidak lengkap, juga menyulitkan masing-masing negara asal para teroris untuk melacak keberaadaan mereka.

“Perlu pengawasan ketat khususnya di wilayah perbatasan antarnegara. Data dari Interpol menjadi penting untuk mengidentifikasi individu-individu yang terlibat sebagai FTF,” ujarnya.

Boy mengklaim Indonesia telah memiliki strategi pemidanaan, rehabilitasi, dan reintegrasi (PRR) untuk menghadapi militan yang kembali dan berpindah.

“Mereka dapat dipidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 15 tahun apabila terbukti dengan sengaja menyelenggarakan, memberi, atau mengikuti pelatihan militer, paramiliter, atau pelatihan lain di dalam maupun luar negeri dengan maksud merencanakan, mempersiapkan, atau melakukan tindak pidana terorisme,” tulis Boy Rafli.

BNPT tidak segera menanggapi ketika ditanya apa tindakan lebih lanjut yang diambil untuk melacak, memverifikasi, atau memulangkan pejuang asing Indonesia di Yaman.

Alamat palsu

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Mojokerto, Jawa Tengah memastikan KTP Syamsul Hadi Anwar, yang ditemukan di markas ISIS di Yaman adalah palsu. Alamat yang tertera di KTP tersebut adalah rumah kosong yang sudah lama tak berpenghuni.

Kepala Dispendukcapil Kabupaten Mojokerto, Bambang Wahyuadi menjelaskan sebagaimana dilansir detik.com identitas milik Syamsul itu adalah KTP lama yang belum tercatat secara elektronik. Karenanya, Nomor Induk Kependudukan (NIK) maupun nama pada KTP itu tidak bisa ditemukan pada basis data kependudukan, ujarnya.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander saat berada di rumah yang tertera di alamat tersebut mengatakan, berdasarkan keterangan warga, tidak pernah ada pria bernama Syamsul Hadi Anwar di desa tersebut. Warga setempat juga telah melihat video yang beredar, dan memastikan tidak mengenal wajah yang terlihat di KTP itu.

Data FTF masih kabur

Jumlah warga Indonesia yang menjadi teroris lintas batas belum terdata pasti dan berada di mana saja. Jumlah mereka disebut antara 400 hingga 600 orang.

Mantan Kepala BNPT Suhardi Alius pernah menuturkan, keterbatasan pelacakan data teroris lintas batas asal Indonesia karena selama ini pihaknya hanya menerima informasi dari sejumlah pihak seperti saluran intelijen.

Ratusan eks-ISIS  asal Indonesia diyakini masih tersebar di tiga kamp penampungan di Suriah, yaitu Al Roj, Al Howl dan Ainisa. Ketiga kamp juga dijaga oleh otoritas berbeda. BNPT juga telah mendata lebih dari 600 eks-ISIS di kamp tersebut. Namun hanya sekitar 100 lebih WNI yang telah terdata lengkap mulai dari nama dan foto.

Pemerintah Indonesia pada Februari 2020 lalu, juga telah memastikan tidak akan memulangkan warganya yang sebelumnya berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD saat itu mengatakan, pasport mereka telah dicabut.

Militan WNI di Jolo, Filipina

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Senin (31/8), mengonfirmasi kabar dua warga negara Indonesia yang sedang dicari aparat keamanan di Filipina selatan karena dituduh terlibat pengeboman di Jolo yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya pada pekan lalu.

Pada Sabtu, aparat keamanan Filipina meluncurkan operasi besar memburu Andi Baso dan Reski Fantasya (alias Cici), dua warga Indonesia asal Sulawesi Selatan, yang disebut telah kabur dari Jolo menuju Kota Zamboanga pasca-bom bunuh diri oleh dua wanita yang tergabung dalam kelompok militan pro-Negara Islam (ISIS), Abu Sayyaf.

Pasangan suami istri tersebut diduga lari bersama Mundi Sawadjaan, keponakan dari komandan Abu Sayyaf Hatib Hajan Sawadjaan.

“KBRI di Manila sudah terinformasi atas perkembangan di atas,” sebut Juru Bicara Kemlu, Teuku Faizasyah kepada BenarNews, Senin.

Namun, pada Senin, komandan markas militer Mindanao Barat di Zamboanga, Mayjen Corleto Vinluan Jr., mengatakan Mundi dan kedua orang Indonesia itu masih berada di Jolo

“Sampai kemarin, mereka masih berada di Sulu. Mereka adalah kelompok yang pasukan kami hadapi di sana,” kata Vinluan, mengacu pada kontak senjata pada Sabtu antara Scout Rangers dan 30 anggota Abu Sayyaf dekat kota Patikul yang menewaskan satu tentara dan melukai tujuh lainnya.

Setidaknya dua anggota Abu Sayyaf juga tewas, menurut laporan petugas intel setempat.

Filipina selatan terkenal dengan perbatasan yang tidak dijaga ketat sehingga memungkinkan militan untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa terdeteksi.

Sementara itu, Juru Bicara Direktorat Jenderal Imigrasi Arvin Gumilang mengaku pihaknya belum menerima informasi terkait dua buron terorisme tersebut.

Andi Baso bukan hanya menjadi buron di Filipina. November 2016, Kepolisian Republik Indonesia menyebut Andi sebagai sosok yang juga terlibat dalam aksi serangan bom Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Awi Setiyono menyebut Andi adalah buronan Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri yang hingga kini keberadaannya masih terus diburu.

“Kami masih memburu dan terus berkoordinasi dengan Kepolisian Filipina, bertukar informasi tentang DPO (daftar pencarian orang) tersebut,” kata Awi kepada BenarNews, seraya menjelaskan, saat merencanakan penyerangan di Samarinda, Andi adalah bagian dari kelompok militan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) cabang Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara Reski (Cici) adalah putri pasangan Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Bunda Maria Gunung Karmel di Jolo, 27 Januari 2019, menurut Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones.

Reski juga pernah ikut kedua orang tuanya berangkat ke Turki untuk bergabung dengan ISIS pada Maret 2017, namun tertangkap otoritas setempat pada Januari 2017 dan dideportasi ke Indonesia enam bulan kemudian.

“Setelah dipulangkan ke Indonesia, beberapa dari mereka, secara ilegal masuk ke Filipina Selatan dan melakukan aksi teror sebagai pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Jolo,” kata Awi kepada BenarNews, merujuk pada Rullie dan Ulfah.

Berpindah-pindah

Direktur IPAC Sidney Jones menyebut Andi melarikan diri ke Sabah, Malaysia, melalui Nunukan, Kalimantan Utara, setelah serangan bom di Samarinda.

“Dia dapat pekerjaan di Sabah sebagai buruh migran di kebun sawit, tapi buruh migran ilegal,” kata Jones melalui sambungan telepon dengan BenarNews, Senin.

Selama di Sabah, Andi mendirikan sel militan baru dan berhasil meradikalisasi beberapa migran lainnya. Melalui jaringannya tersebut, Andi dikenalkan dengan Rullie oleh Suryadi Masud (alias Abu Ridho), terpidana penyelundup senjata dari Filipina ke Indonesia.

“Oktober 2018, Rullie kontak Andi untuk minta memberangkatkan Ulfah dan Cici ke Mindanao. Tiga hari tiba di Sabah, Cici langsung dinikahkan dengan Andi,” kata Jones, seraya menerangkan Rullie tiba di Mandanao pada Mei 2018 dengan bantuan Andi.

Andi Baso tiba di Mindanao pada Januari 2019, dan sejak saat itu mengikuti pelatihan militer serta melakukan aksi terorisme dengan beberapa kubu militan pro-ISIS di selatan Filipina, sebut studi IPAC.

“Andi ini tidak punya kelompok tetap di Filipina. Dia berpindah terus, pernah bergabung dengan sisa-sisa kelompok Maute. Sekarang dia (bergabung) di mana, tidak diketahui,” kata Jones.

Jones menyebut saat ini tidak banyak warga negara Indonesia yang berada di Filipina yang bergabung dengan kelompok militan di sana.

“Tidak banyak, tapi ada. Ada satu WNI yang ikut Salahuddin Hassan (alias Orak), amir yang baru di Mindanao Tengah,” katanya.

Dalam versi yang diperbarui ini nama alias dari Suryadi Masud telah diperbaiki, demikian juga informasi tentang kelompok-kelompok yang diikuti oleh Andi Baso selama di Mindanao.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.