Densus 88 Tangkap 7 Terduga Teroris di Sumatera Selatan

Pakar: walaupun memiliki struktur berbeda, JAD dan JAK sama-sama mendukung ISIS.
Tria Dianti
2018.07.19
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
180719_ID_TerrorArrested_1000.jpg Polisi melakukan investigasi di lokasi salah satu dari tiga gereja yang menjadi sasaran bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018. (AP)
AP

Tujuh orang terduga teroris diciduk di sejumlah lokasi di Sumatera Selatan, sementara Mabes Polri membenarkan tiga warga Indonesia (WNI) yang dilaporkan terkait Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ditangkap polisi Malaysia bersama empat warga negeri jiran itu.

Kapolda Sumatera Selatan, Irjen. Pol. Zulkarnain Adinegara menyatakan ketujuh terduga teroris itu ditangkap tim Densus 88 dan kepolisian setempat secara marathon di daerah Palembang dan Banyuasin, Rabu petang hingga malam, 18 Juli 2018.

Dia menyebutkan mereka merupakan jaringan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK) pimpinan Abu Husna yang berbasis di Solo, Jawa Tengah.

“Mereka ditangkap karena kegiatan yang mengarah ke tindakan terorisme dan menganut paham intoleransi,” katanya kepada BeritaBenar, Kamis.

Tetapi, tidak dijelaskan secara mendetil apa tindakan yang dilakukan ketujuh orang itu.

Zulkarnain merinci identitas ketujuh terduga teroris dengan inisial Zul, Azed alias HS, SU alias AA, ES alias HA, AA alias SE dan AN alias AK.

“Usia bervariasi dari 21 sampai 42 tahun. Satu di antaranya merupakan anak narapidana teroris yang sebelumnya ditangkap di Lampung. Ayahnya terafiliasi dengan JAD (Jamaah Ansharut Daulah),” paparnya.

Menurutnya, penangkapan itu adalah bagian dari pengamanan menjelang Asian Games yang juga berlangsung di Palembang, 18 Agustus 2018 hingga 2 September mendatang.

“Rencana amaliyah (aksi teror mereka) sedang diselidiki. Sebagai langkah pencegahan, kita lakukan penangkapan,” jelasnya.

Sejumlah barang bukti disita seperti potongan paralon, panah, anak panah, dua buah HP dan buku-buku jihad.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Muhammad Iqbal juga menyebutkan ketujuh orang yang ditangkap itu adalah anggota JAK yang terafiliasi ISIS.

“Sama juga dengan JAD mereka sama-sama terhubung,” katanya, “mereka ditangkap terkait dengan rangkaian peristiwa di Surabaya, Mei lalu.”

Pada bulan Mei sejumlah bom meledak di Surabaya, termasuk bom bunuh diri yang dilakukan dua keluarga yang menyasar tiga gereja dan markas kepolisian setempat. Sebanyak 27 tewas, termasuk 13 pelaku dalam aksi terorisme tersebut.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada Senin lalu mengatakan sejak peristiwa Surabaya, Densus 88 telah menangkap sekitar 180-an terduga teroris, dan menembak mati 20 orang militan karena melawan saat ditangkap.

Pro-ISIS

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, mengatakan JAK dan JAD merupakan dua jaringan teror di Indonesia yang pro-ISIS.

“JAK memiliki struktur sendiri dari segi organisasi yang berbeda dengan JAD,” katanya kepada BeritaBenar.

JAK yang sebelumnya dikenal dengan nama Jaringan Ansharut Khilafah Nusantara (JAKN) dipimpin Abu Husna, sementara JAD dipimpin Aman Abdurrahman.

Menurut Ridlwan, mereka bertemu saat dipenjara di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, setelah divonis dalam kasus pelatihan paramiliter di Aceh, pada 2010.

“Abu Husna berselisih paham dengan Aman mengenai teknis organisasi dan hal bersifat duniawi sehingga mendirikan JAK dengan basis di Sumatera,” katanya, “Jambi, Lampung, Palembang merupakan kantong supporternya.”

“Meski berbeda tapi ideologi dan tujuan mereka memastikan bahwa Daulah Islamiyah ada, masih beroperasi dan juga target serangan yang masih di jalankan,” tambahnya.

Sedangkan, kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir, menurut Ridlwan, sudah tidak ada lagi pengikutnya di Indonesia.

“Sebagian anggota bergabung ke JAD. Sebagian lagi ke JAK,” tambahnya.

WNI ditangkap di Malaysia

Sementara itu, Kadiv. Humas Mabes Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto membenarkan tiga WNI termasuk dalam tujuh terduga teroris yang ditangkap Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) karena diduga terkait ISIS.

“Ya benar itu. Sedang didalami info lanjutnya oleh Atase Polri di Malaysia,” ujarnya saat dikonfirmasi BeritaBenar.

Ketujuh terduga teroris ditangkap dalam operasi yang digelar 12-17 Juli lalu di sejumlah wilayah seperti Terengganu, Selangor, Perak, dan Johor.

Salah seorang dari mereka pernah mengancam akan membunuh Yang Dipertuan Agong Sultan Muhammad V dan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Menurut laporan beberapa media Malaysia, seorang WNI merupakan operator pabrik berusia 42 tahun yang ditangkap di Ipoh pada 14 Juli 2018.

Dia mengaku memiliki hubungan dengan seorang anggota JAD yang terlibat dalam kasus kerusuhaan dan penyanderaan di tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, awal Mei lalu.

Kemudian, WNI lain berusia 26 tahun ditangkap di Terengganu, 12 Juli 2018, merupakan anggota Negara Islam Indonesia (NII) yang sudah berikrar sebagai pengikut JAD.

“Tersangka sudah menjalani serangkaian pelatihan para-militer yang diselenggarakan NII di Bandung antara 2015 dan 2017,” kata Inspektur Jenderal PDRM, Mohd Fuzi.

Menurutnya, terduga berencana membawa istri dan anak tiri mereka ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

“Istrinya yang merupakan warga Malaysia yang juga berikrar kepada NII di Bandung,” katanya.

Pada hari yang sama, polisi Malaysia juga menangkap WNI berusia 27 tahun yang bekerja kontrak di Petaling Jaya.

“Ia juga mempromosikan terorisme melalui media sosial Facebook dan mengunggah video dan gambar ISIS serta melakukan perekrutan melalui akun Facebook untuk gabung ISIS di Suriah,” lanjut Fuzi.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia belum mau berkomentar banyak mengenai penangkapan tiga WNI tersebut.

“Kami klarifikasi dulu ya. Infonya masih sangat awal,” ujar Direktur Perlindungan WNI, Lalu Muhammad Iqbal.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.