Terduga Gerilyawan Tembak Mati Tukang Ojek di Papua

Total 3 warga sipil, termasuk 2 guru tewas dalam seminggu terakhir di tangan kelompok separatis.
Arnold Belau
Jayapura
2021-04-14
Share
Terduga Gerilyawan Tembak Mati Tukang Ojek di Papua Dalam foto tertanggal 10 April 2021 ini, Natalina Pamean (kanan), istri dari Oktovianus Rayo, guru yang ditembak mati oleh terduga anggota kelompok separatis pada 8 April di Beoga, Kabupaten Puncak, menangis saat menerima kedatangan jenazah suaminya di Timika, Papua.
AFP

Seorang tukang ojek tewas di Kabupaten Puncak, Papua, pada Rabu (14/4) setelah ditembak oleh orang yang diduga gerilyawan separatis, menjadikannya warga sipil ketiga yang meninggal dalam kekerasan di provinsi itu dalam sepekan terakhir, kata kepolisian. 

Pria yang bernama Udin (41) ditembak di Kampung Eromaga dalam perjalan pulang ke Kota Ilaga, ibu kota Kabupaten Puncak setelah mengantarkan penumpang ke pedalaman, kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal.

Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia membenarkan peristiwa itu.

“Kami dari tim TNI-Polri mendatangi TKP (tempat kejadian perkara), ternyata di sana tukang ojek itu sudah tergeletak dan meninggal dunia,” kata Nyoman kepada BenarNews.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang merupakan bagian dari kelompok separatis, tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar tentang kematian tukang ojek itu.

Tapi sebelumnya TPNPB mengakui bahwa mereka telah menembak mati dua orang guru - Oktovianus Rayo (42) dan Yonathan Renden (28) di distrik Beoga, Kabupaten Puncak pada Kamis dan Jumat pekan lalu.

TPNPB mengklaim bahwa penembakan tersebut dilakukan karena keduanya bekerja sebagai mata-mata militer selain mengajar di sekolah.

Rayo mengajar di SD Yulukoma, Distrik Beoga sedangkan Renden adalah seorang guru honorer di SMPN 1 Beoga.

“Yang kami tembak itu intelijen TNI-Polri. Kami lakukan atas dasar laporan dari PIS terkait kerja-kerjanya yang kami terima. Maka pasukan saya tembak mati,” kata Gusby Waker, komandan operasi TPNPB di Intan Jaya, kepada BenarNews, Selasa malam. PIS atau Papua Intelligence Service adalah nama yang digunakan TPNPB atas apa yang mereka sebut sebagai lembaga intelejen mereka.

“Kami akan tembak mati orang Papua maupun non-Papua yang menjadi mata-mata TNI-Polri,” ujarnya.

Waker mengatakan anggota TNI dan Polri banyak menyamar sebagai guru, tukang, pedagang dan tukang ojek, terutama di daerah-daerah konflik seperti Kabupaten Intan Jaya, Puncak Papua, Timika, Lanny Jaya, Pegunungan Bintang, Nduga dan Puncak Jaya. 

Komandan Operasi Umum TPNPB, Lekagak Telenggen, membenarkan bahwa kelompoknya berada di belakang pembunuhan itu.

“Kami yang tembak mati. Jadi kalau mau perang itu lawan kami. Jangan kejar masyarakat. Kami bertanggungjawab terhadap penembakan itu. Kami lakukan penembakan karena kami dapat laporan dari PIS dan bukti seperti pakaiannya korban,” kata Telenggen.

Pada Minggu, pasukan gerilyawan melakukan pembakaran terhadap pesawat helikopter Mi-8 dari Kazakhstan, yang memang sudah rusak dan diparkir di Bandara Aminggaru, Ilaga. Helikopter ini dioperasikan oleh Unitrade Persada Nusantara yang bergerak di bidang logistik udara dibawah PT Ersa Eastern Aviation.

Telenggen mengatakan bahwa pembakaran itu juga dilakukan atas perintahnya.

Polisi juga mengatakan sejumlah ruangan sekolah dibakar di Distrik Beoga oleh kelompok separatis pada hari Minggu lalu seperti diwartakan sejumlah media.

Pekan lalu, Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri menyebutkan Rayo tewas karena mengalami luka tembak pada bagian rusuk kanan dan perut sebelah kanan.

“Korban ditembak saat berada di kios miliknya. Saat kejadian, pelaku mendatangi korban menggunakan senjata pendek, lalu menembak korban di dalam kios,” kata Kapolda.

Menurut Mathius, saat penembakan terjadi ada beberapa rekan korban yang juga guru di Beoga di lokasi kejadian.

“Pelakunya adalah kelompok Sabinus Waker yang sedang menuju ke Ilaga atas undangan Legakak Telenggen. Saat menuju ke Ilaga mereka melakukan penembakan terhadap seorang guru tersebut,” ujar Mathius kepada wartawan.

Setelah penembakan dua guru, Kepolisian Daerah Papua mengerahkan satu peleton personil gabungan Brimob dan Satgas Nemangkawi ke Distrik Beoga pada Sabtu untuk membantu Polsek Beoga dalam rangka mengejar gerilyawan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. 

Sementara itu, terkait pembakaran helikopter, Kepala Bandara Ilaga Herman Sujito secara terpisah mengatakan helikopter itu diparkir sejak 31 Maret lalu karena mengalami gangguan mesin. Pihak perusahaan masih menunggu onderdil baru namun Minggu malam dibakar.

“Yang terbakar di bagian depannya,” kata Sujito.

Biadab

Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal menyebut tindakan gerilyawan yang menembak dua guru di Beoga “sangat biadab”.

“Dikutuk tujuh turunan dia, karena tidak ada alasan bagi dia untuk membunuh guru yang notabene membawa hal-hal terang,” kata Tinal dalam pernyataan kepada wartawan, Senin.

Wagub meminta TNI dan Polri untuk segera mengejar dan menangkap pelaku penembakan tersebut.

Sementara itu, Laurenzus Kadepa, Anggota DPR Papua mengatakan dia menyayangkan tindakan gerilyawan. Dia meminta agar gerilyawan membuktikan tuduhan mereka bahwa kedua guru yang ditembak adalah mata-mata militer Indonesia.

“Kalau mereka dua ditembak karena ada pistol dan baju aparat, tudingan ini harus ada bukti, tidak hanya spekulasi yang bisa mengancam keamanan seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Papua dan Puncak pada khususnya,” kata Kadepa pada Minggu.

Menurut laporan hak asasi manusia Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) yang dirilis akhir bulan lalu, petugas keamanan Indonesia dituding melakukan pembunuhan di luar hukum, penangkapan atau penahanan sewenang-wenang hingga penyiksaan dalam proses penindakan hukum terhadap kelompok pemberontak di Papua. 

Beberapa kasus yang disoroti laporan tersebut di antaranya penembakan dan penyiksaan terhadap pendeta Yeremia Zanambani di Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada September 2020, karena dituding terlibat dengan kelompok separatis pro-kemerdekaan Papua. 

Hasil investigasi independen dari tiga tim pembela HAM menemukan keterlibatan dua tentara, dengan salah satunya bernama Alpius, dalam insiden tersebut. Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab berjanji akan menindak tegas anggotanya yang terbukti terlibat, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut atas kasus tersebut.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya