10,5 Juta Warga Ikut Simulasi Siap Siaga Bencana

BNPB mengatakan peningkatan jumlah bencana setiap tahunnya disebabkan karena perubahan iklim, perilaku manusia, dan perencanaan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan
Zahara Tiba
Jakarta
2017-04-26
Share
170426_ID_BNPB_1000.jpg Seorang staf Badan Nasional Penanggulangan Bencana ikut simulasi evakuasi kebakaran di Jakarta, 26 April 2017.
Zahara Tiba/BeritaBenar

“Telah terjadi kebakaran. Telah terjadi kebakaran. Segera evakuasi. Harap tetap tenang,” ujar resepsionis perempuan yang bertugas di lobi gedung melalui mikrofon di mejanya.

Pengumuman bernada tegas itu meluncur dari pengeras suara yang terpasang di seluruh gedung Badan Penanggulangan Nasional Bencana (BNPB) di kawasan Pramuka, Jakarta, Kamis pagi, 26 April 2017.

Tak lama berselang, alarm berbunyi dan puluhan staf instansi tersebut berhamburan keluar gedung, sambil menutupi kepala mereka dengan tangan. Mereka berkumpul di seberang lobi gedung.

Dari lantai 9 tiba-tiba terlihat asap kelabu dan oranye mengepul, diiringi mobil pemadam kebakaran yang tanggap merespon dengan menyemprotkan air.

Dari lantai itu juga, beberapa petugas pemadam berseragam oranye berusaha membantu mengevakuasi dua orang korban yang terjebak kebakaran.

“Serius ya ternyata,” ujar seorang staf BNPB yang berdiri di samping BeritaBenar.

“Kebakaran” yang berlangsung selama sejam ini memang bagian dari latihan evakuasi yang digelar BNPB dalam rangka pencanangan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional yang nanti diperingati setiap tanggal 26 April mulai tahun depan.

Acara simulasi sadar bencana ini tak hanya digelar BNPB di Jakarta, namun juga di beberapa daerah lain seperti Aceh, Jawa Tengah, dan Papua.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, sekitar 10,5 juta orang terlibat dalam simulasi yang digelar secara serentak itu.

Kepala BNPB Willem Rampangilei memuji pelaksanaan latihan evakuasi dan peralatan yang sudah sesuai dengan sistem. Hanya saja ada dua hal yang menjadi sorotannya.

“Alarm peringatan masih belum menarik perhatian publik. Peserta masih belum merespon secara cepat sejak peringatan diumumkan,” ujarnya di hadapan para peserta simulasi.

Willem berharap ke depan acara serupa tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, namun dapat juga diterapkan dengan baik oleh setiap individu, terutama pegawai BNPB.

Rawan bencana

Menurutnya, Indonesia adalah negeri rawan bencana alam dimana jutaan orang tinggal di daerah-daerah yang rawan bencana. Setiap tahun, Indonesia mencatat peningkatan jumlah bencana.

Tahun lalu saja ada 2.348 kasus bencana atau meningkat 38 persen dari tahun sebelumnya. Total kerugian setiap tahun akibat bencana diperkirakan mencapai 30 triliun rupiah.

Hal ini, ujarnya, dikarenakan meningkatnya pengaruh perubahan iklim, perilaku manusia, dan perencanaan pembangunan yang masih belum berwawasan lingkungan.

“Karena itu inisiasi seperti ini penting sekali untuk membangun kesadaran individu dan naluri untuk selamat, dimana masyarakat paham situasi lingkungan masing-masing dan tahu cara merespon bencana,” kata Willem.

“Bencana membawa dampak sosial, ekonomi dan lingkungan. Dampak yang kompleks ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga semua pihak.”

Bencana yang sering terjadi di Indonesia antara lain banjir, tanah longsor, dan gempa bumi.

Membangun kesadaran masyarakat

Kegiatan ini mendapat dukungan dari organisasi-organisasi manca negara, seperti Japan International Cooperation Agency (JICA), Pacific Disaster Center (PDC) dan beberapa lembaga lain.

Perwakilan JICA, Ishigaki Shigeki, mengatakan latihan-latihan evakuasi seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat, seperti yang sering dilaksanakan di negaranya.

“Pemerintah Jepang melaksanakan kegiatan serupa yang disesuaikan dengan kerangka manajemen bencana yang diperbaharui setiap tahun,” ujar Shigeki dalam jumpa pers usai simulasi tersebut.

Tahun lalu, lanjut dia, latihan difokuskan untuk melihat penerapan manajemen bencana jika terjadi gempa besar di Tokyo. Tak hanya di ibukota, latihan serupa juga digelar di sembilan prefektur lain. Malah, Perdana Menteri Shinzo Abe pun ikut serta dalam simulasi tersebut.

“Untuk itu, saya merasa senang bisa hadir dalam acara yang digelar oleh BNPB ini dan kami siap mendukung pelaksanaan kegiatan serupa pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Shigeki.

Wakil Direktur Eksekutif PDC, Chris Chiesa mengatakan Amerika Serikat (AS) juga memiliki kegiatan serupa. Tahun lalu, tema yang diangkat adalah “Don’t wait, communicate, make your emergency plans today.

“Indonesia sering dilanda bencana alam, namun kadang kita lupa untuk mempersiapkan diri. Kita berpikir tak mungkin bencana menimpa kita dan keluarga. Karena itu kita perlu mempersiapkan diri seperti hari ini dan mengingat risiko yang mungkin muncul,” ujar Chiesa.

“Persiapan harus dimulai dari individu masing-masing, lalu keluarga, kemudian komunitas masyarakat dan selanjutnya bangsa.”

Chiesa menambahkan PDC akan terus bekerja sama dengan BNPB dalam upaya mendukung kesiapsiagaan bencana di Indonesia.

Salah satunya kerjasama itu ialah dengan meluncurkan InaWARE, aplikasi telepon genggam yang berguna bagi masyarakat untuk melaporkan jika terjadi bencana di daerahnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya