Kelompok Separatis Bakar Pesawat Amal dan Tembak Heli di Papua

Kelompok separatis mengatakan serangan tersebut dilakukan karena mereka mendapat informasi ada aparat di dalam pesawat tersebut.
Ronna Nirmala
Jakarta
2021-01-07
Share
Kelompok Separatis Bakar Pesawat Amal dan Tembak Heli di Papua Petugas menunjukkan bekas lubang tembakan di helikopter milik PT Sayap Garuda Indonesia yang ditembak oleh kelompok separatis, di Kabupaten Mimika, Papua.
Humas Polda Papua

Kelompok separatis membakar pesawat milik organisasi kemanusiaan Kristen yang bermarkas di Amerika Serikat dan menembak helikopter milik kontraktor perusahaan tambang dalam dua kejadian terpisah di Provinsi Papua, kata pejabat keamanan setempat, Kamis (7/1), hal yang dibenarkan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), kelompok anti pemerintah yang mengklaim sebagai pihak bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Kepala Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan sekelompok orang membakar pesawat Twin Otter perintis milik Mission Aviation Fellowship (MAF) yang baru mendarat di Distrik Biandoga, Kabupaten Intan Jaya, Rabu (6/1).

Pilot MAF berkewarganegaraan Amerika Serikat bernama Alex Luferchek dan dua penumpang berhasil diselamatkan oleh tokoh agama setempat, namun pesawat dibakar habis, kata Kamal. 

“Pilot disuruh turun dari pesawat kemudian datang seseorang yang diduga KKB di sekitar tempat pesawat berhenti, membawa senjata dan mengeluarkan tembakan ke udara,” kata Kamal, dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis.

KKB adalah kelompok kriminal bersenjata, sebutan aparat keamanan untuk separatis di Papua. 

MAF adalah lembaga penginjilan internasional berbasis di Amerika Serikat yang bergerak di bidang penerbangan untuk melayani masyarakat terpencil dan tertinggal di Indonesia selama lebih dari setengah abad, tulis situs yayasan MAF Indonesia. 

Pada Mei tahun lalu sebuah pesawat MAF yang membawa alat tes COVID-19 dan bantuan kemanusiaan lainnya, jatuh di Danau Sentani Papua, menewaskan seorang pilot perempuan berkewarganegaraan Amerika. Hingga saat ini pihak pemerintah Indonesia maupun MAF belum mengeluarkan informasi resmi tentang penyebab kejatuhan pesawat tersebut.

Pada hari yang sama dengan pembakaran pesawat di Intan Jaya tersebut, sebuah helikopter yang melakukan survei letak permukaan bumi (GPS) untuk PT Freeport Indonesia di daerah Benangin Tembagapura, Kabupaten Mimika, ditembak oleh orang yang diduga dari kelompik separatis, kata Kamal. 

Tidak ada korban jiwa dalam kedua kejadian itu, sebut Kamal. 

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel I Gusti Nyoman Suriastawa menyebut kelompok separatis TPNPB bertanggung jawab atas kedua insiden itu. 

“Ini pesawat sipil yang jadi sasaran mereka. Memang TPNPB pun mengakui, dari awal memang begitu, mereka ingin menunjukkan eksistensinya,” kata Suriastawa kepada BenarNews, Kamis. 

Kamal mengatakan pilot dan dua penumpang helikopter yang ditembak berkewarganegaraan asing. 

Helikopter ditembak saat terbang pada ketinggian 1.500 kaki dan langsung melakukan pendaratan di helipad MP 66 Hidden Valley Tembagapura ketika pilot mencium bau bahan bakar, lanjutnya. Dugaan penembakan diperkuat dengan temuan sebuah lubang peluru di badan helikopter. 

Kamal mengatakan pelaku masih dalam pengejaran personel gabungan TNI-Polri.

“Untuk wilayah Benangin sendiri dari hasil penyelidikan adalah jalur perlintasan KKB Kalikopi dari markas menuju Kampung Tsinga untuk mendapatkan bahan makanan,” kata Kamal.

Juru bicara PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, mengatakan helikopter tersebut bukan milik perusahaan, melainkan kontraktor yang mendukung operasional pertambangan PTFI. “Chopper bukan milik kami, milik SGI (Sayap Garuda Indonesia),” kata Riza singkat melalui layanan berbagi pesan. 

BenarNews telah menghubungi PT Sayap Garuda Indonesia untuk meminta informasi lebih lanjut namun tidak mendapatkan respons. 

TPNPB klaim penyerangan

Sebby Sambom, juru bicara TPNPB, mengonfirmasi kelompoknya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas dua serangan tersebut.

“Ya, itu Panglima TPNPB-OPM Kodap VIII Intan Jaya, Sabinus Waker, dan Komandan Operasi Kodap VIII Intan Jaya, Gusby Waker, bertanggung jawab,” kata Sebby melalui pesan singkat kepada BenarNews. 

Sebby mengatakan TPNPB menerima laporan bahwa kedua pesawat tersebut tidak ditumpangi oleh warga sipil, melainkan aparat TNI-Polri yang menyamar. 

“Alasannya sudah jelas, tahun lalu markas pusat TPNPB-OPM sudah pernah umumkan bahwa apabila helikopter sipil dan pesawat sipil komersial mengangkut anggota TNI-Polri, maka TPNPB siap tembak,” katanya. 

“Pesawat MAF itu kami sudah terima informasi karena selalu bawa anggota TNI/POLRI dan juga supply logistik militer seperti bahan makanan,” ujar Sebby

Namun klaim tersebut dibantah oleh juru bicara MAF, Brad Hoaglun, yang mengatakan bahwa walaupun dalam penyaluran bantun organisasi itu kerap bekerja sama dengan pemerintah lokal, mereka tidak pernah membawa personel militer.

Membawa personel militer bersenjata, orang bersenjata atau tidak bersenjata yang terlibat dalam aksi militer adalah dilarang keras di pesawat MAF karena hal itu tidak mewakili visi MAF,” ujar Brad dalam keterangannya kepada BenarNews.

Ia mengatakan bahwa menurut informasi dari pilot pesawatnya, kelompok separatis mengatakan bahwa pembakaran pesawat itu adalah untuk mendapatkan pengakuan Internasional terhadap perjuangan TPNPB dalam upaya keluar dari Indonesia.

Sementara itu, juru bicara Kogabwilhan Suriastawa meminta masyarakat di Intan Jaya maupun Mimika tidak mudah terprovokasi oleh aksi-aksi yang dilakukan kelompok separatis. 

“Tetap tenang dan bantu pemerintah untuk membangun Papua dan Papua Barat agar bisa maju dan sejahtera,” kata Suriastawa. 

Sejak Papua bergabung dengan Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1969, konflik antara separatis dan aparat keamanan terus mewarnai Papua. Aktivis HAM dan sebagian warga melihat Pepera tidak sah karena melibatkan hanya sekitar 1.000 orang yang telah diinstruksikan untuk memilih bergabung dengan Indonesia.

Pada 1 Desember 2020, faksi lain kelompok separatis Papua yang dipimpin Benny Wenda mengumumkan pembentukan pemerintah sementara Papua Barat sebagai upaya mewujudkan referendum menuju kemerdekaan dua provinsi paling timur Indonesia. 

Namun pengumuman itu ditentang TPNPB-OPM dengan mengatakan klaim dari tokoh separatis yang saat ini berada di Inggris itu tidak memiliki legitimasi dari mayoritas masyarakat Papua. 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya