Kontak Senjata dengan Mujahidin Indonesia Timur di Poso, 1 Brimob Tewas

Di Jatim, 22 orang terduga militan JI ditangkap sejak Jumat lalu.
Keisyah Aprilia dan Eko Widianto
Palu dan Malang
2021-03-03
Share
Kontak Senjata dengan Mujahidin Indonesia Timur di Poso, 1 Brimob Tewas Personel Brimob Polda Sulteng yang tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya mengikuti apel di Posko Komando Strategis di Tokorondo, Poso, Sulawesi Tengah, 25 Desember 2020.
Keisyah Aprilia/BenarNews

Seorang anggota Brimob tewas dalam pengejaran kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, sementara di Jawa Timur, aparat keamanan kembali menangkap terduga anggota Jemaah Islamiyah, Rabu (3/3), demikian menurut kepolisian setempat.

Tewasnya polisi dari kesatuan Brimob yang bernama Briptu Herlis tersebut menyusul kematian seorang anggota TNI dalam kontak senjata dengan kelompok yang sama di Poso dua hari sebelumnya. 

Baku tembak terbaru yang terjadi di pegunungan Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara itu terjadi saat anggota satuan tugas Bravo 5 yang tengah melakukan patroli bertemu dengan MIT, kelompok militan bersenjata yang telah berbaiat kepada ISIS. Kelompok yang berada dalam pengejaran satuan tugas TNI-Polri itu dipimpin langsung ketuanya, Ali Kalora, kata Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto. 

“Jadi ini rangkaian peristiwa dari Senin (1/3), patroli yang dilakukan untuk mengejar Ali Kalora. Saat patroli prajurit kita menemukan Ali Kalora bersama anggotanya terjadi baku tembak,” katanya kepada wartawan di Palu. 

Dalam kejadian Rabu (3/3) Ali Kalora diduga mengalami luka tembak, tapi hal itu tidak dapat dipastikan karena ia lolos, kata Didik. 

“Saat baku tembak memang terlihat Ali Kalora, dan berdasarkan laporan anggota kita di lapangan, Ali Kalora terkena tembakan namun masih bisa melarikan diri. Yang pasti sekarang masih dikejar dan minta doanya tidak ada lagi korban jiwa dan MIT bisa ditangkap semuanya,” tandas Didik. 

Pada Senin, dua anggota MIT tewas dalam baku tembak dengan Satgas Operasi Madago Raya, yang menggantikan Operasi Tinombala, kesatuan yang terdiri dari polisi dan TNI yang diluncurkan sejak 2016 untuk menumpas MIT. Dengan tertembaknya dua militan dalam daftar buronan polisi itu, anggota MIT yang tersisa saat ini adalah sembilan orang, demikian menurut kepolisian.

Seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya juga tewas dalam baku tembak di Pegunungan Andole Kecamatan Poso Pesisir Utara, Senin itu.

‘Tahun terburuk’

Pakar terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, mengatakan tahun ini memang tahun terburuk bagi TNI dan Polri yang melakukan operasi di Poso dalam beberapa tahun terakhir. 

“Meski memang dari kelompok MIT juga terdapat dua korban jiwa, tapi itu bukan keberhasilan, karena dua satgas juga tewas,” kata Jones kepada BenarNews. 

Menurutnya, sampai saat ini hanya kelompok MIT-lah yang paling aktif melancarkan aksinya di antara kelompok militan lainnya di Indonesia.  

“Ini tandanya dukungan MIT itu masih besar dari luar,” terang Jones. 

Jones mengingatkan TNI dan Polri tidak lengah dengan kelompok yang  terafiliasi dengan ISIS tersebut. 

“Saya kira kita semua harus paham betul bahwa kelompok MIT itu sangat berbahaya dan harus disikapi dengan stategi dan pendekatan yang khusus,” ungkapnya. 

Namun Jones mengungkapkan pesimisme masalah MIT akan bisa diselesaikan dengan cepat. 

“Mereka sangat mengenal medan dari pada prajurit TNI dan Polri yang mengejar mereka. Tentu ini pekerjaan berat untuk TNI dan Polri,” ujarnya. 

TNI maupun Polri, ungkapnya, harus memiliki data akurat untuk mengetahui persis di mana keberadaan MIT. 

“MIT pasti punya rencana perang yang matang. Karena mereka kuasai medan, jadi pasti dengan mudah menembak satgas kemudian bersembunyi,” ujarnya.

Rumah terduga militan bernama Budi Suryono (41) di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 3 Maret 2021. [Eko Widianto/BenarNews]
Rumah terduga militan bernama Budi Suryono (41) di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 3 Maret 2021. [Eko Widianto/BenarNews]

10 lagi militan JI ditangkap di Jatim

Sementara itu di Jawa Timur, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap 10 orang yang diduga terkait kelompok militan terlarang Jemaah Islamiyah (JI) dalam dua hari terakhir, demikian pejabat kepolisian, Rabu. 

Mereka diduga menjadi bagian dari sel JI pimpinan Fahim alias Usman Haedar bin Seff, kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono. 

Di antara yang ditangkap adalah Budi Suryono (41), yang diduga berperan sebagai bendahara JI di Jawa Timur, sebut Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Malang AKBP Hendri Umar, kepada jurnalis. 

Hendri mengatakan, Budi ditangkap pada Selasa (2/3), di kediamannya di Malang,di mana menurutnya ditemukan cek senilai Rp2,7 miliar, satu set pakaian taktikal, dua buah laptop, tiga pisau lipat, pedang katana dan 20 busur panah. 

“BS ditangkap jam 9 WIB. Setelah itu dibawa untuk upaya pemeriksaan Densus. Ada barang bukti diamankan bukti keterlibatan dalam kelompok pelaku teroris,” kata Hendri. 

Dengan ditangkapnya 10 orang pekan ini, berarti sudah 22 orang yang diduga terkait dengan JI yang sudah ditahan sejak Jumat pekan lalu di Jawa Timur.

Rusdi mengatakan, Densus 88 masih akan terus melakukan pengembangan terhadap jaringan Fahim yang tersisa. “Masih dikembangkan lagi oleh Densus untuk betul-betul kelompok Fahim ini bisa diselesaikan di Jatim,” kata Rusdi.

Sembilan lainnya yang ditangkap Senin dan Selasa diidentifikasi dengan inisial mereka yaitu ZA (43), N, AN (32), AP (39), YP (40), EP (29), YT (39), SH (57), dan satu orang lain yang masih ditelusuri keterlibatannya. 

Pada Jumat pekan lalu, Densus 88 meringkus Fahim dan 11 orang lainnya yang diduga terafiliasi kelompok JI di Jawa Timur. JI adalah kelompok yang berada di balik serangkaian aksi terorisme pada awal dekade 2000-an, termasuk Bom Bali pada 2002 yang menewaskan 202 orang.

Dalam penangkapan di Jatim itu, polisi juga mengatakan menemukan bunker yang diduga dijadikan sebagai tempat perakitan senjata serta bahan peledak. 

Barang yang disita meliputi 50 butir peluru tajam berukuran 9 milimeter, satu pistol rakitan jenis FN, delapan pisau, dua pedang katana, tiga golok, 23 busur panah dan empat bendera daulah Islamiah berwarna hitam dan putih, kata polisi.

Rusdi dalam keterangannya Senin mengatakan kelompok Fahim diduga merencanakan sejumlah aksi kekerasan namun tidak menyebut detil lokasi dan target sasaran serangan yang dimaksud. 

Perajin busur panah

Istri Budi, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan suaminya tidak bersalah.

“Kaget, polisi datang menggeledah. Suami saya sudah dibawa ke kantor polisi,” kata dia kepada BenarNews. 

Budi selama ini berprofesi sebagai perajin tas kulit untuk wadah panah, sehingga wajar apabila di rumahnya banyak ditemukan senjata yang kerap digunakan sebagai hobi dan olahraga tersebut, ujarnya. 

“Saya yakin suami saya tidak salah,” katanya, seraya turut menyangkal bahwa suaminya diduga menjadi bendahara JI Jawa Timur.

Terkait penemuan cek senilai Rp2,7 miliar, dia mengklaim barang tersebut ditemukan di jalan. 

“Saya itu geli, katanya punya cek miliaran. Itu saya nemu di pinggir jalan. Sudah dapat lama itu. Kalau punya cek miliaran masa rumah seperti ini,” kata dia, seraya merujuk rumahnya yang masih dalam proses pembangunan.

Ketua RT 10 Havid Nudin mengatakan Budi dan keluarganya jarang terlihat bergaul dengan tetangganya. “Kesannya tertutup. Dia baru delapan bulan tinggal di sini,” katanya.

Fahim, perekrut senior JI

Muh. Taufiqurrohman, peneliti senior Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), menyebut Fahim sebagai salah satu sosok senior JI yang memiliki keahlian dalam merekrut anggota khusus untuk wilayah Jawa Timur. 

Fahim pernah berangkat ke Afghanistan dan Mindanao, Filipina, pada tahun 1987 untuk mendapatkan pelatihan bela diri dan militer. Catatan PAKAR juga menyebut Fahim pernah menjabat sebagai ketua wakalah (organisasi JI tingkat provinsi) Jawa Timur dan Ketua Yayasan Darussalam di provinsi yang sama. 

“Pada 2003, dia pernah membantu menyembunyikan Noordin M Top pasca-peledakan bom JW Marriott bersama dua anggota JI lainnya, Adung dan Qotadah,” kata Taufiqurrohman kepada BenarNews.

Noordin, yang disebut polisi sebagai perekrut ulung JI asal Malaysia, tewas ditembak polisi tahun 2009.  

Pada 2005, Fahim divonis penjara karena terbukti membantu menyediakan bahan peledak serta pistol dalam insiden pengeboman Kedutaan Besar Australia, Jakarta Selatan, yang menewaskan sembilan orang pada tahun 2004. 

“Fahim menjadi salah satu anggota JI yang setelah bebas, tidak mau meninggalkan terorisme. Dia tetap aktif melakukan dakwah dan merekrut orang di Jawa Timur,” kata Taufiqurrohman. 

Beberapa sosok JI yang berhasil direkrut Fahim antara lain Ahmad Zaini alias Ahyar, seorang petinggi JI di wilayah Lebak, Banten, yang terafiliasi dengan Para Wijayanto. Ahmad telah ditangkap Densus 88 pada 8 November 2020. Sementara Para Wijayanto telah divonis tujuh tahun penjara pada Juli 2020 karena terbukti menghidupkan kembali JI.

Fahim juga menjadi sosok yang merekrut Ahmad Hassan, terpidana mati yang terlibat pengeboman di Kedutaan Besar Australia. 

Di kalangan senior JI lainnya, Fahim juga menjadi sosok yang paling populer di media sosial seperti YouTube atau Facebook, kata Taufiqurrohman.  

“Ceramah-ceramah Fahim di YouTube itu bisa disukai sampai puluhan ribu orang. Dia juga menjadi senior JI yang paling populer karena ceramahnya yang meledak-ledak,” katanya.  

Sebelumnya juru bicara kepolisian mengatakan para terduga teroris yang ditangkap di Jawa Timur memiliki keterlibatan dengan Upik Lawanga, senior JI yang menjadi ahli perakit bom. 

Taufiqurrohman menyebut jumlah anggota JI yang direkrut Fahim di Jawa Timur lebih banyak dari penangkapan yang sudah dilakukan kepolisian hingga saat ini. 

Kendati demikian, penangkapan Fahim bakal membuat anggota lain “beristirahat”.

“Waktu Fahim ditangkap 6 Juli 2004, anak buahnya langsung diistirahatkan, demi keamanan JI. Mereka tidak boleh ikut kegiatan sama sekali sampai situasi sudah aman, biasanya bisa dua sampai lima tahun.” 

Ronna Nirmala di Jakarta turut berkontribusi dalam laporan ini.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya