Sawahlunto, bekas kota tambang, kini area konservasi

Taman Kehati Emil Salim dibangun di lokasi yang dinobatkan Unesco sebagai kota warisan dunia ini.
M. Sulthan Azzam
2022.06.14
Sawahlunto, Sumatra Barat
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Sawahlunto, bekas kota tambang, kini area konservasi Perbukitan dan danau-danau bekas tambang batu bara di Sawahlunto, Sumatra Barat, 8 Juni 2022.
[M. Sulthan Azzam/BenarNews]

Tanah bekas tambang bersejarah di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, yang dulunya hampir menjadi kota hantu akan bertransformasi menjadi kawasan konservasi dan wisata dengan dibangunnya taman keanekaragaman hayati.

Taman Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Emil Salim akan berdiri di atas 25 hektar lahan bekas tambang batu bara yang ditutup pada 1923 karena ada rembesan air dari Sungai Lunto, kata Riki Frindos, Ketua Eksekutif Yayasan KEHATI, inisiator konservasi. 

Yayasan KEHATI bersama Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah provinsi Sumatra Barat dan pemerintah Kota Sawahlunto menamakan taman itu sesuai dengan nama mantan menteri lingkungan hidup asal Sumatra Barat, Emil Salim, karena jasanya sebagai tokoh lingkungan hidup.

“Kawasan ini akan digunakan sebagai tempat pencadangan sumber daya alam hayati lokal, menjadi objek wisata, bahkan menjadi sistem penyangga tempat penelitian,” kata Riki kepada BenarNews pada 8 Juni saat diselenggarakannya acara pencanangan taman dan peringatan Hari Lingkungan Hidup.

“Bukan sekedar hutan kota dimana kita bangun pohon-pohon, tapi benar-benar membangun ekosistem disini. Disini kita bisa menanam, meneliti jenis-jenis tumbuhan, spesies-spesies,” katanya. Pembangunan taman diperkirakan memakan waktu tiga tahun.

Salah seorang pengurus Yayasan KEHATI memaparkan konsep rencana besar menata bekas lokasi tambang batu bara di Sawahlunto, Sumatra Barat, menjadi kawasan taman keanegarakaman hayati, 8 Juni 2022. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]
Salah seorang pengurus Yayasan KEHATI memaparkan konsep rencana besar menata bekas lokasi tambang batu bara di Sawahlunto, Sumatra Barat, menjadi kawasan taman keanegarakaman hayati, 8 Juni 2022. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]

Yayasan KEHATI sudah terlibat dalam pembangunan taman serupa di Yogjakarta, Belitung, Sumedang di Jawa Barat dan Kalimantan Barat.

Dipilihnya Kota Sawahlunto telah melalui berbagai pertimbangan, antara lain karena statusnya kota industri tambang batu bara sejak tahun 1892 dan ditetapkannya sebagai World Heritage City oleh badan PBB Unesco pada tahun 2019.

Menurut Unesco, warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto menunjukkan pertukaran teknologi pertambangan yang signifikan antara Eropa dan koloninya selama paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Gabungan teknologi yang kompleks ini direncanakan dan dibangun sebagai sistem terintegrasi penuh yang dirancang untuk memungkinkan ekstraksi lubang dalam yang efisien, pemrosesan, pengangkutan, dan pengiriman batu bara berkualitas industri, kata Unesco.

Unesco berpendapat desain keseluruhan dan pelaksanaan bertahapnya menunjukkan transfer pengetahuan teknik dan praktik pertambangan yang sistematis dan berkepanjangan yang dimaksudkan untuk mengembangkan industri pertambangan di Hindia Belanda.

Riki memandang, area bekas tambang merupakan potensi untuk masa depan bila dapat dijadikan kawasan konservasi, dengan area reklamasi yang cukup luas dan ambisi pemerintah daerah untuk mewujudkan kota berpenduduk 67.000 ini menjadi kota wisata, budaya dan lingkungan hidup.

Emil Salim, pendiri Yayasan KEHATI, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat berkolaborasi atas terwujudnya pendirian lahan konservasi di Sawahlunto.

Emil berpesan bahwa rakyat yang menderita akibat pola pembangunan yang terlalu mengeksploitasi sumber daya alam di masa lalu, saat ini harus menjadi agen pengayaan sumber daya.

“Alam Sawahlunto kita pulihkan, pikiran manusia juga kita pulihkan. Ini adalah jawaban atas terkurasnya sumber daya alam Sawahlunto,” ujar tokoh lingkungan yang berusia 92 tahun itu.

Ia mengatakan hatinya dekat dengan kota Sawahlunto ini setelah dirinya mengunjungi kota itu pada tahun 2018.

“Saat itu, saya terpesona dengan keadaan Sawahlunto. Sebagai wilayah persawahan yang dilalui aliran sungai Lunto, Sawahlunto merupakan daerah yang sangat subur yang juga memuat bahan baku batu bara dengan kapasitas yang cukup banyak,” kata Emil.

Pembangunan Taman KEHATI, kata Emil, diharapkan dapat mendorong berkembangnya model pembangunan di kawasan bekas tambang yang berkawasan lingkungan dan menjadi sarana bermanfaat bagi masyarakat.

Kota Sawahlunto dari ketinggian. Daerah ini nyaris menjadi "kota hantu”, karena banyak warganya yang eksodus, setelah potensi batu bara berkurang. Foto diambil pada 8 Juni 2022. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]
Kota Sawahlunto dari ketinggian. Daerah ini nyaris menjadi "kota hantu”, karena banyak warganya yang eksodus, setelah potensi batu bara berkurang. Foto diambil pada 8 Juni 2022. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]

Kota tambang Belanda

Sejarawan di kota Padang mengatakan jauh sebelum kedatangan Belanda pada abad ke-19, di kawasan tersebut terdapat sawah-sawah yang ditumbuhi oleh pepohonan yang belum diketahui namanya.

“Siapa yang pernah menduga Sawahlunto, daerah tidak bertuan sebelum akhir abad ke-19 itu, tiba-tiba menjelma menjadi sebuah kota tambang,” tulis sejarawan dari Universitas Andalas Padang, Yenny Narny kepada BenarNews.

Yenny mengungkapkan melalui jasa para geolog Belanda, mulai dari De Groet [1858], De Greve [1867], P. Van Dienst [1871], hingga Verbeek [1887], Sawahlunto kemudian diketahui mengandung ratusan juta ton batu bara.

Pintu masuk menuju Lubang Mbah Soero, salah satu bekas lokasi tambang batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, yang kini menjadi museum dan sarana pendidikan. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]
Pintu masuk menuju Lubang Mbah Soero, salah satu bekas lokasi tambang batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, yang kini menjadi museum dan sarana pendidikan. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]

Sejak penelitian tersebut diumumkan ke Batavia pada tahun 1870, pemerintah Hindia-Belanda mulai merencanakan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi batu bara di Sawahlunto, kata dia.

“Tidak berselang lama kemudian, berdirilah perusahaan batu bara pertama, bernama Landsberrijf de Oembilin Steenkolenontginning, atau dikenal dengan Ombilin Mijnen,” kata Yenny, menambahkan bahwa produksi batu bara dimulai sejak tahun 1892.

Usaha tambang Belanda mengandalkan "orang rantai" yaitu para narapidana yang ditawan belanda dan diperkerjakan dalam kondisi kaki dan tangan terikat, kata Yenny.

Pemerintah Belanda juga membangun jalur kereta api dari Sawahlunto menuju Kota Padang untuk mengangkut hasil tambang, tambah dia.

Pada zaman kemerdekaan, usaha tambang batu bara diambil alih oleh PT. Bukit Asam, kata Yenny, lebih dari satu abad setelah produksi pertama kali, yang kemudian komoditas ini menjadi andalan utama gerak ekonomi masyarakat di Sawahlunto.

Pengunjung memasuki Lubang Mbah Soero, salah satu bekas lokasi tambang batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Lokasi bekas-bekas tambang direvitalisasi dan menjadi daya tarik wisata. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]
Pengunjung memasuki Lubang Mbah Soero, salah satu bekas lokasi tambang batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Lokasi bekas-bekas tambang direvitalisasi dan menjadi daya tarik wisata. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]

“Tapi yang namanya potensi tentu ada batasnya,” kata Yenny, menambahkan. Kabar duka menyelimuti Kota Sawahlunto saat Bukit Asam menghentikan produksinya di awal tahun 1990-an karena tak lagi produktif untuk ditambang.

Ribuan pekerja diberhentikan secara massal, kata dia, yang menyebabkan ekonomi daerah itu terganggu sehingga Sawahlunto mulai ditinggalkan penduduknya.

“Dari 50 ribu penduduk pada 1995, merosot tajam menjadi 43 ribu saja pada 2000. Daya beli masyarakat juga merosot menyusul tutupnya toko-toko di pasar,” kata dia.

Para pedagang pindah ke kota lain di Sumatra Barat yang ekonominya masih baik, kata Yenny, di mana menjelang tahun 2000 pertumbuhan ekonomi Sawahlunto minus 6,27 persen.

Perbukitan bekas lokasi tambang batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, 8 Juni 2022. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]
Perbukitan bekas lokasi tambang batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, 8 Juni 2022. [M. Sulthan Azzam/BenarNews]

Tapi secara perlahan, daerah itu mulai bangkit saat dipimpin oleh Wali Kota Amran Nur pada awal tahun 2000-an, Sawahlunto menjadi magnet baru sebagai kawasan wisata kota tambang, kaya Yenny.

Bekas-bekas industri pertambangan yang dulu menjadi urat nadi kota dan tidak lagi dipakai, lalu menjadi objek wisata, dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda direnovasi sesuai bentuk aslinya, kata dia.

“Terowongan tambang yang sudah ditinggalkan dibuka lagi, setelah diperbaiki dan standar keselamatannya dijamin,” ujar Yenny.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya