Di tengah krisis Ukraina, Presiden Jerman tawarkan kerja sama lebih erat di Indo-Pasifik

Jokowi ajak Jerman investasi dalam sejumlah proyek energi terbarukan.
Arie Firdaus
2022.06.16
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Di tengah krisis Ukraina, Presiden Jerman tawarkan kerja sama lebih erat di Indo-Pasifik Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 16 Juni 2022.
[BPMI Setpres/Muchlis Jr.]

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier pada Kamis (16/6) menawarkan kerja sama lebih erat di kawasan Indo-Pasifik, di tengah gejolak politik global yang dipicu perang Rusia di Ukraina.

Invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari lalu menambah ketidakpastian dunia yang membuat harga produk energi dunia melonjak. Jerman menjadi salah satu negara terdampak dengan kenaikan produk-produk energi mencapai 38,3 persen, seperti dilaporkan Kantor Statistik Federal (Destatis) pada Selasa (16/6).

"Jerman dan Uni Eropa siap untuk berhubungan lebih jauh dan dalam (dengan negara di kawasan Indo-Pasifik)," kata Steinmeier dalam keterangan pers seusai pertemuan dengan Presiden Joko "Jokowi" Widodo di Istana Kepresidenan Bogor.

"Kami terus menjalin kebersamaan dengan negara-negara yang memiliki nilai dan kepentingan sama," lanjutnya, seraya menyebut Indonesia sebagai “mitra utama regional”.

Dalam pertemuan dengan Jokowi, Steinmeier juga berterima kasih kepada Indonesia atas “posisi yang jelas” terkait agresi Rusia ke Ukraina.

Mengenai krisis di Ukraina, Jokowi menegaskan sikap Indonesia, "Saya mendorong penguatan kerja sama mengatasi dampak perang Ukraina, khususnya terhadap pangan dan energi.”

Ditambahkan Stenmeier, Indonesia dan Jerman telah menunjukkan komitmen besar terhadap demokrasi dan supremasi hukum internasional, yang dicerminkan lewat status presidensi kelompok negara ekonomi besar G20 yang diemban Indonesia.

Steinmeier pun telah mengundang Jokowi untuk hadir dalam forum pertemuan tujuh negara perekonomian terbesar dunia (G7), yang berlangsung akhir Juni nanti. Jerman tahun ini memegang presidensi G7.

Jokowi mengatakan siap hadir dalam pertemuan yang akan berlangsung di Elmau, Bavaria itu.

Kehadiran Stenmeier di Indonesia ini adalah kunjungan pertama presiden Jerman ke tanah air dalam 11 tahun terakhir, setelah Christian Wulff pada 2011.

Tahun ini menandai 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jerman yang terjalin sejak tahun 1952.

Ajak investasi

Dalam pertemuan di Bogor, Jokowi secara khusus mengajak Jerman untuk berinvestasi pada sejumlah proyek energi terbarukan di Indonesia, di tengah krisis energi yang melanda negara tersebut seiring invasi Rusia ke Ukraina, yang ditandai dengan kenaikan harga gas alam dan bahan bakar kendaraan bermotor, masing-masing 55,2 persen dan 41 persen.

Tawaran yang diajukan Jokowi kepada Steinmeier, antara lain, dalam sektor industri kendaraan listrik, salah satunya pengembangan pabrik chip semikonduktor yang ditargetkan menjadi bagian dari rantai pasok global. Komponen tersebut sempat mengalami krisis pasokan di dunia.

"Saya mengajak Jerman untuk mengembangkan pabrik semi konduktor di Indonesia dan menjadi industri ini bagian dari rantai pasok chip global dan untuk investasi di kawasan industri hijau di Indonesia," kata Jokowi.

Menanggapi ajakan investasi oleh Jokowi, pengajar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai Indonesia akan beroleh banyak keuntungan andaikata Jerman menanam modal di Tanah Air.

Pasalnya Jerman disebut Rezasyah memiliki teknologi mumpuni dan punya sistem kerja transparan.

"Di satu sisi (investas Jerman) akan menguntungkan buat kita karena mereka mengedepankan good governance dan tak sungkan mengirimkan tenaga ahli untuk transfer kemampuan," kata Rezasyah kepada BenarNews.

Jokowi juga menyinggung diintensifkannya kolaborasi antara kedua negara. Terlebih kedua negara kini sama-sama memegang presidensi dalam forum ekonomi dengan prioritas transisi energi.

"Saya mengundang Jerman dan negara-negara G7 dalam berbagai pengetahuan dan teknologi serta akses sumber daya. Mendukung pembentukan pembiayaan transisi energi dan pasar karbon di Indonesia serta kerja sama riset pada energi hidrogen dan mobil," kata Jokowi.

Jerman sejauh ini sudah berinvestasi dalam sejumlah proyek di Indonesia, antara lain proyek integrasi transmisi energi hijau di Sulawesi Utara senilai 150 juta euro dan proyek energi geotermal senilai 300 juta euro.

Dalam memerangi perubahan iklim, Jerman juga telah memberikan pinjaman 2,5 miliar euro untuk pembangunan infrastruktur hijau dan pusat mangrove dunia di Indonesia.

Pinjaman tersebut disepakati kedua negara dalam pertemuan bilateral di Berlin pada Oktober 2019.

Stenmeier terbang ke Jakarta pada Rabu malam (15/6), setelah kunjungan dua hari di Singapura.

Sebelum bertemu Jokowi, ia terlebih dahulu menabur bunga di makam mantan Presiden Indonesia BJ Habibie yang pernah bersekolah di Jerman dan mengunjungi sekolah Jerman di Jakarta.

Steinmeier akan mengakhiri kunjungan di Indonesia pada Jumat, dengan kunjungan ke kompleks Candi Borobudur yang merupakan situs warisan dunia UNESCO.

"Reaksi atas pengaruh China"

Sejak 2018, Jerman telah meningkatkan komitmen mereka untuk memainkan peran keamanan kawasan Indo-Pasifik yang disebut sebagai bagian menjaga kepentingan ekonomi Jerman sekaligus reaksi atas pengaruh China yang kian meningkat.

Pada September 2020, Kementerian Luar Negeri Jerman juga menerbitkan panduan politik Indo-Pasifik yang memperdalam keterlibatan mereka atas keamanan kawasan, seperti dilaporkan DW.

Hal itu diperlihatkan Jerman dengan mengirim kapal perang Bayern untuk selama tujuh bulan untuk berkunjung ke 11 negara, termasuk Jepang, Vietnam, dan Singapura.

Peneliti di GIGA Institute for Asian Studies di Hamburg Christian Wirth mengatakan, invasi Rusia ke Ukraina memang menyedot perhatian keamanan dan diplomasi Jerman sehingga menaruh perhatian terhadap Indo-Pasifik, kendati Berlin disebutnya tidak akan menambah kehadiran personel militer mereka di kawasan Indo-Pasifik.

Pengajar hubungan internasional Universitas Indonesia Arie Afriansyah menilai manuver Jerman di kawasan Indo-Pasifik saat ini terkait krisis energi yang mereka alami akibat invasi Rusia ke Ukraina.

"Sumber energi alternatif yang ada di Indonesia adalah perkiraan yang sangat logis," ujar Arie kepada BenarNews.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya