Polisi Selidiki Dugaan Perdagangan Manusia Terkait 114 Rohingya di Aceh

Hasil pendataan mendapati para pengungsi itu telah melakukan perjalanan laut selama 25 hari tanpa makanan yang cukup.
Uzair Thamrin
2022.03.07
Banda Aceh
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Polisi Selidiki Dugaan Perdagangan Manusia Terkait 114 Rohingya di Aceh Pengungsi Rohingya beritirahat sambil menikmati kudapan yang disiapkan penduduk setempat di sebuah musala setelah kedatangan mereka menggunakan perahu di Bireuen, Aceh, 6 Maret 2022.
AFP

Kepolisian Daerah Aceh menyelidiki dugaan perdagangan manusia terkait kedatangan lebih dari 100 pengungsi Rohingya di Kabupaten Bireuen akhir pekan kemarin setelah berada dilautan selama 25 hari, kata juru bicara kepolisian, Senin (7/3).

Sebanyak 114 warga Muslim Rohingya yang telah mengalami persekusi di Myanmar mendarat di pinggir pantai Gampong Alue Buya di Bireuen pada Minggu dini hari dalam keadaan lemah dan lapar, kata polisi dan pejabat setempat.

Mereka yang terdiri dari 58 laki-laki, 21 perempuan dan 35 anak-anak kemudian dipindahkan oleh aparat keamanan ke sebuah meunasah atau musala.

“Sampai saat ini masih melakukan penyelidikan, dan masih bekerja mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti yang lain,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy kepada wartawan, terkait dugaan penyelundupan orang oleh sindikat.

Dia mengatakan Polda Aceh sudah menurunkan tim untuk mengecek kemungkinan adanya dugaan pidana itu.

Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Sosial telah memberi bantuan makanan bagi pengungsi Rohingya, sementara masyarakat membuka dapur umum di meunasah.

Menurut Kepala Desa atau Keuchik Alue Buya Pasie, Muslem A. Majid, pengungsi Rohingnya ditemukan oleh warga yang sedang mencari kepiting di kawasan kuala dekat pantai.

“Saat kami menemukan mereka sudah turun dari boatnya dan duduk ditepi pantai ditempat sepi 500 meter ke barat pusat Gampong Alue Buya Pasi,” terang Muslim. 

Winardy mengungkapkan, hasil pendataan petugas diketahui sebelum masuk ke perairan Aceh, 114 pengungsi Rohingya itu telah melakukan perjalanan laut selama 25 hari tanpa makanan yang cukup.

Sebagian miliki kartu pengungsi

Hasil pemeriksaan polisi di kebanyakan dari mereka ditemukan memiliki kartu pengungsi dari lembaga PBB yang mengurus pengungsi (UNHCR).

“Didapati 74 orang merupakan pemegang kartu UNHCR, dan 30 orang sudah memiliki kartu vaksin,” ungkapnya.

Juru bicara UNHCR di Indonesia Mitra Salima Suryono mengatakan pihaknya belum mendapatkan informasi lengkap mengenai warga Rohingya yang baru tiba, termasuk status pengungsi mereka, dari mana mereka berangkat dan ke mana tujuan mereka.

“Saat ini fokus kami adalah kesehatan mereka. Mereka telah menjalani tes COVID-19 dan akan menjalani masa karantina, dilanjutkan dengan registrasi di mana kita akan melakukan interview dan mencari informasi yang lebih detil,” katanya kepada BenarNews.

“Berdasarkan pengalaman dari kedatangan sebelumnya, ada beberapa yang telah memiliki kartu UNHCR Bangladesh, karena mereka sebelumnya telah mengungsi ke sana dan didaftar sebagai pengungsi di sana,” ujarnya. 

Sejak penyerangan brutal yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar di negara bagian Rakhine pada tahun 2017, sekitar 740.000 Rohingya melarikan diri dan tinggal di kamp pengungsian di dan sekitar Cox's Bazar di Bangladesh.

Sekitar 1 juta Rohingya diperkirakan berada di sana saat ini.

Ratusan dari mereka telah membayar penyelundup untuk mengangkut mereka ke Thailand dan Malaysia, berharap untuk mencari pekerjaan jauh dari Myanmar atau kamp-kamp pengungsi yang padat di Bangladesh.

Bupati Bireuen Muzakkar A Gani mengharapkan pengungsi dapat segera dievakuasi ke penampungan pengungsi di Lhokseumawe dibawah koordinasi International Organization of Migration (IOM) dan UNHCR.

“Tempat penampungan sementara sekarang di Bireuen tidak cukup kondusif sehingga dikhawatirkan pengungsi keluar dari tempat penampungan”’ ungkap Muzakar A. Gani.

Pengungsi melarikan diri

Pada akhir Desember tahun lalu, sekitar 105 pengungsi, sebagian besarnya merupakan anak-anak, terdampar di perairan Aceh Utara karena mesin kapal mengalami kerusakan dan diselamatkan nelayan setempat.

Setidaknya 36 dari mereka telah melarikan diri dari kamp karantina, memicu kekhawatiran mereka dikelabui sindikat perdagangan orang.

“Saya belum punya bukti tapi dugaan ini muncul melihat pola yang sistematis sehingga kuat dugaan terlibat pihak lain” lanjut Muzakar.

Pejabat setempat tidak bisa memastikan ke mana kaburnya puluhan pengungsi itu, namun menduga mereka diming-imingi oleh sindikat perdagangan orang untuk diseberangkan ke tujuan asal mereka ke Malaysia.

Pejabat setempat telah membentuk satuan tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang khususnya untuk menangani persoalan pengungsi Rohingnya.

Merujuk data Badan PBB yang menangani pengungsi UNHCR, setidaknya 665 pengungsi Rohingya berlindung di Indonesia per Oktober 2021. Mereka tersebar di enam kota, salah satunya Jakarta. Dari keseluruhan angka tersebut, 62 persen laki-laki, 38 persen perempuan, dan sisanya anak-anak dan bayi.

Indonesia bukan menjadi negara tujuan para pengungsi, sebut laporan UNHCR. Mereka menjadikan Indonesia sebagai persinggahan sebelum berangkat ke negara ketiga seperti Malaysia atau Australia.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.