Menanti Pilihan Warga Jakarta

Sejumlah lembaga survei yang merilis hasil kajiannya menunjukkan persaingan elektabilitas kedua kandidat cukup ketat.
Rina Chadijah
2017.04.13
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
170`413_ID_Ahok_1000.jpg Pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat dan Anies Rasyid Baswedan - Sandiaga Uno ketika tampil pada debat publik Pilkada putaran kedua yang dipandu Ira Koesno (kiri) di Jakarta, 12 April 2017.
Rina Chadijah/BeritaBenar

Dari panggung nan mewah, Ira Koesno menyapa ratusan orang yang memadati Ballroom Birawa, Hotel Bidakara di kawasan Jakarta Selatan, Rabu malam, 12 April 2017.

Suasana yang sebelumnya sepi berubah riuh begitu pemandu acara mempersilahkan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, naik ke atas paggung.

Pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat muncul lebih dulu. Mengenakan kemeja kotak-kotak, mereka melempar senyum dan melambaikan tangan ke arah para penonton. Tak berapa lama, muncul Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno, dengan kemeja biru muda.

Debat putaran kedua Pilkada DKI Jakarta memang ditunggu publik. Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta berharap warga ibukota dapat lebih yakin dengan sosok yang akan dipilihnya pada 19 April 2017, untuk memimpin Jakarta lima tahun ke depan.

Tema debat membahas sejumlah hal menyangkut persoalan transportasi, permukiman, reklamasi, dan pengembangan ekonomi masyarakat kecil dan menengah. Debat dibagi dalam tiga sesi terdiri dari pertanyaan para panelis, perwakilan masyarakat dan antar pasangan calon.

“Selama ini para kandidat telah banyak menyampaikan visi-misinya kepada masyarakat, malam ini kami hadirkan perwakilan masyarakat untuk bertanya kepada para calonnya langsung,” kata Soemarno, Ketua KPU DKI Jakarta.

Tak banyak berubah dalam pemaparan yang disampaikan kedua kandidat dalam debat. Adu program yang dipaparkan juga tak beda dari debat putaran pertama sebelumnya.

Ahok-Djarot sebagai petahana menjelaskan program-program yang telah dijalankannya, sementara Anies-Sandi lebih banyak memaparkan gagasan-gagasan tentang harapan kebahagiaan penduduk Jakarta.

“Format debat terasa tidak mengeskplorasi program kedua kandidat. Terlalu banyak bagian sehingga tidak ada yang baru disampaikan mereka,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, kepada Beritabenar, Kamis, 13 Maret 2017.

Hasil debat itu baginya sangat tak memuaskan. “Apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan perwakilan masyarakat, malah debat seperti ingin memojokkan salah satu kandidat saja,” katanya, tanpa menyebut siapa calon dimaksud.

Bersaing ketat

Setelah dinyatakan lolos ke putaran kedua, dua calon pemimpin Jakarta bersaing ketat. Sejumlah lembaga survei yang merilis hasil kajiannya terkait perbedaan elektabilitas kedua kandidat juga cukup tipis.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 46,9 persen. Semetara Anies Anies-Sandi mendapatkan 47,9 persen. Selisih antara kedua pasangan hanya sekitar 1%.

Namun, menurut SMRC, tren dukungan terhadap masing-masing calon berbeda. Dalam sebulan terakhir, dukungan kepada Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan Anies-Sandi turun 2,8%. Survei ini dilakukan pada 31 Maret sampai 5 April 2017.

Sementara menurut survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, yang dilaksanakan pada 7 hingga 1 April 2017 menunjukkan, 54,1 persen pemilih menginginkan Gubernur Jakarta baru. Hanya 33,7 persen pemilih menyatakan tetap ingin gubernur petahana.

Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), J. Kristiadi menilai proses Pilkada Jakarta yang memunculkan gejolak sosial sejak awal memang membuat penentuan pemenang sulit diprediksi. Namun dia yakin warga Jakarta sangat rasional dalam menentukan pilihannya.

“Yang terpenting dari semuanya adalah proses demokrasi berjalan dengan baik. Jangan karena sentimen agama dan suku kemudian kualitas demokrasi kita menjadi mundur ke belakang,” katanya kepada BeritaBenar.

Senada dengan Kristiadi, Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan dari sejumlah survei, elektabilitas kedua kandidat tidak lebih dari 3%. Ini menjadikan hasil Pilkada Jakarta sulit diprediksi.

“Menjelang pemilihan, elektabilitas kandidat sifatnya sudah harian. Tinggal bagaimana mereka menjaga pendukungnya saja. Terutama bagi Ahok, jangan melakukan blunder yang tak perlu,” ujarnya.

Ahok kini masih dihadapkan pada kasus dugaan penistaan agama. Proses persidangan dengan pembacaan tuntutan batal dilakukan, Selasa lalu, karena jaksa beralasan belum selesai membuat tuntutan. Rencananya pembacaan tuntutan dilakukan pada 20 April mendatang.

Lalu, bagaimana jika Ahok terpilih dan lantas dinyatakan bersalah dalam kasus dugaan penistaan agama? Yunarto mengaku tak berani berspekulasi.

“Serahkan saja nanti pada proses hukum yang berjalan,” ujarnya saat dihubungi.

Kristiadi juga mengaku tak ingin berandai-andai. Baginya usai pemilihan berakhir, siapa pun yang terpilih harus mampu menyatukan dan menstabilkan keadaan yang terpecah karena Pilkada.

“Perlu kembali menyatukan keberagaman dan persatuan yang ada, sebab Jakarta adalah wajah Indonesia,” katanya.

Pengamanan

Menurut data KPU Jakarta, sebanyak 7.218.254 warga ibukota akan memilih gubernur dan wakilnya pada 19 April mendatang. Artinya terjadi penambahan 109.668 orang dari jumlah pemilih putaran pertama pada 15 Februari lalu.

Warga akan memberikan suaranya di 13.034 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh Jakarta dan Kepulauan Seribu.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan menyatakan, pihaknya mengerahkan 34.627 anggota kepolisian untuk menjaga keamanan Jakarta pada hari pencoblosan. Total jumlah pengamanan mencapai 64.726 personel gabungan.

“Jadi pengamanan satu TPS satu polisi, satu TNI, dan dibantu dengan Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja). Kalau jumlah TNI 15.000 lebih, jumlah kita 34.627, nanti dibantu ada Linmas di sana,” katanya dalam konferensi pers, Kamis.

Syahrul Idris (52), warga Duren Sawit, Jakarta Timur, mengaku telah yakin benar dengan pilihannya. Dia mantap mengaku akan mencoblos Ahok-Djarot. Sebab, menurutnya, pasangan ini telah terbukti bisa memajukan Jakarta.

“Jakarta banyak preman, makanya butuh pemimpin seperti Ahok yang tegas, kerjanya kelihatan dan nggak korupsi. Saya nggak peduli beda agama atau suku, yang penting kerjanya benar,” katanya.

Sedangkan, Mahdi (47) –  warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menyebut Jakarta perlu pemimpin yang tidak menimbulkan perpecahan. Pedagang ini berharap ribut-ribut soal Pilkada ini dapat segera berlalu.

“Siapa pun yang terpilih, yang penting jangan sampai rusuh. Yang penting damai supaya kita enak mencari rezeki,” ujarnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.