Perambahan Hutan Penyebab Banjir Bandang di Garut

Hingga Jumat siang, tercatat 27 orang meninggal dunia, 22 hilang, 32 luka berat dan ringan, serta 433 jiwa mengungsi ke tempat yang aman.
Arie Firdaus
2016.09.23
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
160923_ID_forestflood_1000.jpg Sejumlah relawan sedang membersihkan sebuah sekolah yang dilanda banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, 22 September 2016.
Dok. BNPB

Perambahan hutan di kawasan hulu Sungai Cimanuk disebut menjadi penyebab banjir bandang yang menerjang tujuh kecamatan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sehingga menewaskan sedikitnya 27 orang dan 22 lainnya masih hilang.

"Setelah dicek kemarin, kawasan hutan lindung di hulu sungai ternyata sudah beralih fungsi," ungkap Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Hendroyono kepada BeritaBenar, Jumat, 23 September 2016.

"Beralih menjadi lahan pertanian intensif. Yang artinya, didahului perambahan sebelum ditanami," tambahnya.

Bambang mengecek kawasan hulu Sungai Cimanuk bersama tim gabungan dari Badan SAR (Search and Rescue) Nasional dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis, 22 September 2016.

Hanya saja, Bambang tak merinci sejak kapan peralihan fungsi lahan di hulu Sungai Cimanuk itu terjadi dan berapa luas lahan yang telah berubah fungsi, dari keseluruhan sekitar 360.000 hektar hutan lindung.

Ia pun tak bisa memastikan apakah perambahan itu dilakukan warga atau melibatkan perusahaan swasta.

"Itu harus diteliti lagi," katanya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, mengatakan bahwa pihaknya akan menindak tegas para pelaku perambahan hutan konservasi di Garut.

"Kami kirim tim untuk mencari data apakah bencana ini akibat ulah manusia. Kami akan menindak tegas perambahan hutan konservasi yang sudah jelas-jelas dilarang," ujarnya kepada wartawan, Kamis.

Secara geografis, lebih dari setengah kabupaten Garut dikelilingi perbukitan dan hutan, termasuk hutan konservasi. Sejumlah wilayahnya menjadi hulu sungai.

“Kalau ada hutan di dataran tinggi dirambah, tentu akan mengakibatkan longsor dan banjir,” katanya.

Tewaskan 27 orang

Banjir bandang terjadi menyusul hujan deras mengguyur kawasan Garut sejak Selasa malam lalu. Hujan lebat selama tujuh jam membuat ketinggian air Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamuri, yang merupakan sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Cimanuk, naik dengan cepat.

Menurut juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, bencana ini merusakkan 206 rumah penduduk, merendam 398 rumah, dan menghanyutkan 347 rumah lainnya.

Hingga Jumat siang, tercatat 27 orang meninggal dunia --sepuluh di antaranya anak-anak, 22 hilang, 32 luka berat dan ringan, dan 433 jiwa lain mengungsi ke tempat yang aman.

Pencarian akan dilanjutkan hingga ke-22 korban yang masih hilang ditemukan, jelas Sutopo.

"Fokus pencarian di empat lokasi, yaitu Lapangan Paris di Desa Sukakarya, Cimacan, Pamingi, dan Sukamantri," ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima BeritaBenar.

Kepala BPBD Jawa Barat, Haryadi Wargadibrata berharap warga tujuh kecamatan yang terkena banjir bandang tetap berhati-hati, meski sungai Cimanuk telah kembali normal.

"Potensi banjir susulan tetap ada jika hujan deras kembali terjadi," kata Haryadi ketika dihubungi BeritaBenar melalui telepon.

Jika hujan deras kembali datang, dia mengimbau warga menetap di lokasi pengungsian yang telah ditentukan, yaitu Markas Korem 062 dan Markas Kodim 0611 Garut.

"Di sana, semua bantuan logistik tersedia, seperti makanan siap saji, selimut, hingga matras," jelasnya.

Partisipasi masyarakat

Sebelumnya, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia Yuyun Indradi mengatakan deforestasi  atau perambahan hutan yang marak menjadi penyebab tingginya potensi bencana banjir bandang di Pulau Jawa.

Secara keseluruhan, kata dia, tutupan hutan di Jawa kurang 20 persen. Tutupan hutan berfungsi untuk menyerap air dan menahan gerak tanah.

"Idealnya itu 30 persen untuk dapat menanggung beban aktivitas manusia," ujar Yuyun.

Sutopo menilai bencana banjir bandang di Garut sebagai cermin buruknya pengelolaan DAS di Indonesia selama ini.

Dari keseluruhan 450 DAS di Indonesia saat ini, terang Sutopo, 118 di antaranya dalam kondisi kritis --termasuk Cimanuk. Sehingga potensi bencana cukup besar.

"DAS Cimanuk sendiri tergolong kritis sejak 1984," kata Sutopo.

Dia berharap warga sekitar daerah aliran sungai bisa berpartisipasi menjaga kelestarian alam. Jika tidak, program rehabilitasi DAS yang dilaksanakan pemerintah tak berhasil.

"Perlu pengelolaan DAS yang partisipatoris," ujarnya.

Pernyataan Sutopo diamini Bambang. "Ini (rehabilitasi daerah aliran sungai) butuh kerja sama semua pihak," katanya. "Percuma rehabilitasi dari pemerintah jika warga sekitar tak ikut serta."

Garut selama ini memang menjadi salah satu daerah langganan banjir bandang. Maret lalu, banjir menyapu perumahan warga di Kampung Suksari, Desa Padawaas, Kecamatan Pasirwangi.

Tetapi, tak ada korban jiwa dalam banjir bandang akibat luapan Sungai Cibeureum, yang juga merupakan sub-DAS Sungai Cimanuk.

Longsor paling mematikan

Merujuk data BNPB, banjir adalah  bencana paling sering terjadi sepanjang 2016. Hingga kini, total telah terjadi 554 kali banjir dengan total korban meninggal dunia 72 orang,  93 orang luka-luka,  dan 1,9 juta jiwa mengungsi.

Namun longsor tercatat sebagai bencana paling mematikan dengan 130 jiwa meninggal dunia sepanjang 2016, 63 orang luka,  dan 18.728 jiwa mengungsi. Total, tercatat 349 bencana longsor selama 2016.

Mengantisipasi tingginya potensi longsor, BNPB bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada dalam membangun 72 unit sistem peringatan dini longsor sejak 2014 hingga 2016.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.