Menjaga Lontar Bali Agar Tak Terlupakan

Menggunakan teknologi modern dan juga melalui media sosial, kecintaan terhadap lontar berisi aksara tradisional dicoba untuk ditumbuhkan kembali.
Anton Muhajir
Denpasar
2016-09-30
Share
160930_ID_Lontar_1000.jpg Ida Bagus Komang Sudarma menjelaskan sejarah aksara Bali sebagai bagian penting dari lontar, di Denpasar, 28 September 2016.
Anton Muhajir/BeritaBenar

Ida Bagus Komang Sudarma cekatan memadukan dua hal: masa lalu dan teknologi. Sehari-hari, anak muda kelahiran Medan, Sumatera Utara, ini rajin mengumpulkan aneka informasi tentang aksara Bali.

Kemudian, dia membagi informasi itu melalui media sosial, terutama Facebook.

Bagi anak muda seumuran Sudarma, lontar adalah masa lalu. Mereka tak terlalu tertarik pada daun kering berisi tulisan-tulisan aksara Jawa atau Bali kuno tersebut.

Namun, Sudarma mencoba memanfaatkan teknologi untuk mengenalkan kembali lontar-lontar berisi aksara Bali.

Beberapa hari lalu, Sudarma berbagi di depan delapan peserta diskusi tentang lontar Bali. Memakai proyektor, dia menjelaskan sejarah aksara lontar dan perjalanannya dari Nepal hingga Bali.

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha ini juga aktif dalam beberapa grup Facebook yang merangkum diskusi tentang aksara dan lontar. Halaman Aksara Bali hanya salah satunya.

“Dengan menggunakan Facebook, diskusi tentang lontar jadi bisa lebih mudah diikuti anak-anak muda,” kata Sudarma kepada BeritaBenar, Rabu, 28 September 2016.

Sudarma membagi pelajaran sehari-hari, seperti cara menulis dan membaca aksara Bali. Dia juga menjadi administrator di halaman lain serupa, Belajar Jawa Kuna.

Melalui media sosial seperti Facebook, Sudarma ingin lontar mudah menjangkau kawula muda. Karena itu, dia juga membuat metode lain seperti pembuatan suvenir dengan aksara Bali.

“Berkat internet, orang jadi lebih mudah belajar aksara Bali sekaligus lontar,” ujarnya.

Menyeramkan

Bagi sebagian besar orang Bali, tak hanya pemuda, lontar memang terlanjur dianggap sebagai sesuatu yang tenget, menyeramkan.

Menurut Sugi Lanus, peneliti lontar yang lulusan Sastra Jawa Kuno di Fakultas Sastra Universitas Udayana, pandangan itu terjadi akibat kesalahpahaman masyarakat yang seperti sengaja dilestarikan.

Dia mengakui sebagian besar lontar memang berisi apa yang dikenal sebagai ilmu hitam, atau dalam Bahasa Bali, pengleakan.

Di sisi lain, lontar yang diwariskan juga sering membuat sesama anggota keluarga ribut, layaknya warisan tanah.

“Parahnya lagi tiap lontar memang berisi pernyataan agar tidak sembarangan ketika membuka apalagi membacanya,” tutur Sugi kepada BeritaBenar.

Karena itu, jelasnya, banyak masyarakat yang memilih menyimpan lontar daripada mempelajari isinya. Akibatnya, lontar pun cepat rusak karena kurang terawat.

Berdasarkan data Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali, saat ini terdapat 8.366 lontar di seluruh Bali. Lontar itu tersimpan di puri (istana), griya (rumah pemuka agama), atau rumah warga.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan jumlah lontar yang terkumpul berasal dari seluruh daerah di Bali.

Jumlah paling banyak terdapat di Klungkung yaitu 2.103 lontar. Sedangkan paling sedikit dari Jembrana, sebanyak 238 lontar.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.804 lontar masih terawat dengan baik. Sedangkan sisanya, 2.562 lontar sudah dalam kondisi rusak.

“Penyebab rusaknya karena masyarakat awam menganggap lontar ini barang tenget sehingga tidak boleh sembarangan membacanya. Karena lama tak dibaca, pasti tidak terawat, dimakan nget-nget (rayap), lalu rusak,” kata Suka seperti dikutip dari Nusa Bali.

Membongkar ulang

Bersama Sudarma, Sugi ingin membongkar ulang kesalahpahaman masyarakat Bali tentang lontar. Mereka mendirikan Hanacaraka Society yang fokus pada penelitian dan pendidikan tentang lontar Bali.

Sugi memiliki sekitar 120 lontar di rumahnya. “Isi lontar sebenarnya beragam, tidak semuanya menyeramkan. Ada juga semacam cerita-cerita ringan dengan nilai moral,” ujarnya.

Untuk mendekatkan lontar pada masyarakat awam, mereka membuat pameran lontar pada Agustus 2016 lalu. Selama tiga hari, keduanya memamerkan lontar di rumah wine Hatten Wine di Sanur.

“Sengaja di rumah wine agar lontar terasa lebih kekinian dan dekat dengan anak  muda,” tutur Sugi.

Penyebaran melalui website, media sosial, dan digitalisasi juga mereka lakukan. Saat ini sudah ada aplikasi yang bisa mengubah teks latin menjadi aksara Bali. Hal ini mempermudah orang yang ingin belajar.

Mereka juga membuat suvenir semacam kaos berisi aksara Bali.

“Penggunaan aksara Bali sebenarnya bisa ke mana-mana, tidak hanya untuk lontar,” jelas Sudarma.

Aksara Bali, katanya, merupakan bagian penting dalam lontar selain bahasa dan materi (wacana). Karena itu, mereka intens mengadakan pelatihan menulis aksara Bali.

Akhir Agustus lalu, mereka membuat pelatihan menulis aksara Bali untuk umum. Salah satu pesertanya adalah I Putu Hery Ramanda, siswa SMP 1 Gianyar.

Menurut Ramanda, belajar menulis aksara Bali tak hanya agar bisa membaca lontar, tapi juga mengekspresikan perasaannya.

“Dengan belajar menulis lontar, saya juga bisa melatih konsentrasi,” tuturnya.

Namun, tak banyak pelajar yang masih belajar menulis atau membaca lontar seperti Ramanda.

“Saya hanya sendirian. Teman-teman saya lebih senang main game daripada belajar lontar,” ujarnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya