Lian Gogali, Perempuan Agen Perdamaian di Poso

Keisyah Aprilia
2016.12.06
Poso
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
161206_ID_Lian_1000.jpg Lian Gogali saat ditemui di kediamannya di Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2016.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Lian Gogali adalah aktivis perempuan dan pejuang perdamaian yang terlahir di sebuah desa kecil di Poso, Sulawesi Tengah. Ibu tunggal yang harus berjuang keras di tengah kemiskinan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya, adalah pemimpin sekolah yang kharismatik.

Perempuan yang menekuni bidang Theologi dan peraih gelar Master Humaniora bekerja keras untuk membangun Poso, yang sempat luluh lantak akibat konflik antara umat Islam dan Kristen pada tahun 1998 – 2001 lalu.

Sekolah Perempuan dan Project Sophia pada Institut Mosintuwu yang digagasnya membawa perempuan setempat dan anak-anak di sana bangkit. Mosintuwu sendiri dalam bahasa Pamona, bahasa ibu orang Poso, berarti kebersamaan, bersatupadu.

Perdamaian pun terwujud di antara mereka. Bahkan, beberapa dari mereka yang dulu saling benci karena berbeda keyakinan kini bisa hidup berdampingan.

Menurut Lian, perempuan menjadi penting, karena penggerak perdamaian pertama dan utama dalam masyarakat akar rumput saat konflik maupun setelah damai.

"Namun perempuan juga adalah korban yang mengalami kekerasan karena konstruksi masyarakat patriakhi sehingga suara mereka tidak didengar atau dianggap tak penting," akunya kepada BeritaBenar saat diwawancarai di Tentena, Kecamatan Pamona Selatan, beberapa waktu lalu.

Karena itu penting membuka ruang khusus, alternatif yang mengakomodir kebutuhan dan kepentingan perempuan dalam berpartisipasi dalam pembangunan perdamaian di Poso maupun mengembangkan diri.

"Sekolah Perempuan ialah alternatif yang mengumpulkan perempuan berbagai agama, suku, latar belakang sosial, ekonomi dan politik untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan kreativitas dan bekerja sama," jelasnya.

Sekolah Perempuan yang didirikan di desa-desa adalah pijakan untuk menghubungkan, mempertemukan perempuan berbeda latar belakang itu membangun komunikasi dan rasa saling percaya antar-komunitas.

Kebersamaan dilanjutkan dengan memperkuat perempuan dalam organisasi interfaith untuk menjadi agen perdamaian dan memperjuangkan suara perempuan dalam konteks masyarakat patriakhi.

"Program sekolah perempuan Mosintuwu disebut juga gerakan perempuan lintas iman untuk perdamaian dan pemenuhan hak ekonomi, sosial, budaya dan hak sipil politik," ungkap Lian.

Tujuan dan capaian

Tujuan Sekolah Perempuan yang didirikan Lian untuk membekali, memberikan informasi dan pengetahuan, belajar bersama  terkait isu pluralisme, serta hak-hak ekonomi, sosial, budaya dan sipil politik, khususnya terkait perempuan dalam konteks paska-konflik.

"Termasuk mendorong pelibatan aktif perempuan dalam pembangunan perdamaian dan keadilan di desa untuk membangun Indonesia," paparnya.

Setelah sekolah terbentuk, banyak capaian yang diperoleh pesertanya seperti memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam memperjuangkan hak ekonomi, sosial, budaya dan hak sipil politik.

"Sesuai misi dan visi kami, Sekolah Perempuan Mosintuwu menjadi gerakan perempuan interfaith yang memperjuangkan kedaulatan perempuan atas ekonomi, sosial, budaya dan politik di Poso," tegas Lian.

Saat ini Sekolah Perempuan telah berkembang ke sejumlah wilayah di Poso. Bahkan, hampir semua kecamatan terdapat Sekolah Perempuan Mosintuwu.

Project Sophia

Sedangkan Project Sophia, jelas Lian, adalah pendidikan alternatif melalui buku untuk anak-anak Poso, sebagai bagian dari program pendidikan Institut Mosintuwu.

Project Sophia merupakan kegiatan yang merespons kondisi anak-anak paska-konflik karena mereka tidak memiliki akses untuk bertemu, berteman lintas agama, tak punya ruang untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas.

"Akibatnya pengembangan karakter anak pascakonflik sulit. Hal ini dipertajam dengan derasnya arus informasi dari perkembangan modernisasi dan globalisasi," katanya.

Buku menjadi salah satu pilihan yang dipakai dalam memfasilitasi ruang bertemu anak, ruang aktivitas, dan kreativitas anak, dan mengembangkan diskusi merespons dinamika kehidupan anak dalam kehidupan sehari-hari.

"Dalam program ini buku menjadi strategis, bukan hanya membuka akses informasi dan pengetahuan yang luas, tetapi juga membuka kemungkinan ruang bertemu yang bebas dari prasangka," tandas Lian.

Ujung tombak perdamaian

Sejumlah peserta Sekolah Perempuan Mosintuwu menjadi lebih paham dan tak mudah terprovokasi. Menurut mereka, penting bagi perempuan mendapatkan pendidikan.

Dengan mempertimbangkan bahwa selama ini perempuan kurang memiliki akses dalam pendidikan, Sekolah Perempuan menjadi alternatif untuk pendidikan dan mengadvokasi diri dan komunitasnya.

"Saya percaya bahwa perempuan memiliki kekuatan dalam membangun perdamaian, melebihi laki-laki, karena perempuan mempertimbangkan tentang memelihara dan melanjutkan kehidupan," kata Miliana, peserta Sekolah Perempuan Mosintuwu.

"Karena itu, tak ada yang tidak mungkin bagi perempuan menjadi agen perdamaian. Kami berterima kasih pada Ibu Lian atas apa yang telah diberikan kepada kami."

Apresiasi

Wakil Bupati Poso, Samsuri, mengatakan apa yang dilakukan Lian dan yayasannya telah membantu pemerintah dalam pembangunan perdamaian di tingkat masyarakat karena melalui program Institut Mosintuwu, warga berbeda agama bisa bersatu kembali.

"Kita sangat apresiasi yang telah dilakukan Lian. Apa lagi pascakonflik bisa menyatukan perbedaan menjadi persaudaraan,” katanya.

“Saya sangat lega melihat warga yang berbeda agama di Poso kini hidup berdampingan bahkan saling menginap dari satu rumah ke rumah lain," pungkasnya.

Tidak hanya apreasi dari Wakil Bupati Poso, warga Poso, dan masyarakat Indonesia,  namun perjuangan Lian ini juga diakui dunia. Salah satunya adalah ia mendapat penghargaan pemenang Coexist Prize, pengakuan internasional yang diberikan kepada aktivis pejuang interfaith, dimana ia mengalahkan 300 lebih nominator dari seluruh dunia.

Dan bagi Lian, seperti disampaikannya dalam berbagai wawancara, penghargaan semacam ini adalah pengakuan terhadap pentingnya perempuan di akar rumput dalam ikut menciptakan perdamaian.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.