Kisah Lisa, Wasit Sepakbola Berhijab

Zahara Tiba
2016.03.09
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
sb-1000 Nur Holisah sedang memperagakan sebagai hakim garis saat latihan di Stadion Bea Cukai, Jakarta, 8 Maret 2016.
Zahara Tiba/BeritaBenar

Lapangan olahraga adalah dunia bagi Nur Holisah. Ketika cedera membuatnya harus mengubur mimpi menjadi atlet jalan cepat empat tahun lalu, Lisa, begitu panggilan akrabnya, tak lantas menjauhi lapangan begitu saja.

Hanya saja, ketika gadis kelahiran 18 tahun silam itu kembali ke lapangan, bukan lintasan tartan yang dipilihnya, melainkan lapangan sepakbola – sesuatu yang biasa dilakukan kaum pria.

Pengalaman barunya dimulai sore itu tiga tahun lalu, saat sedang jogging di stadion dekat rumahnya di Bekasi, ia melihat kerumunan orang tengah mengikuti pelatihan perwasitan.

Merasa tertarik, Lisa mencari tahu caranya lewat seorang instruktur olahraga. Lalu, memutuskan untuk mencoba dan mendaftarkan diri.

“Saya tertarik karena ternyata tidak ada perempuan yang ikut di situ. Unik juga,” tutur mahasiswi tingkat awal Jurusan Matematika, Universitas Negeri Jakarta saat ditemui BeritaBenar, 8 Maret 2016, di Stadion Bea Cukai, Jakarta.

“Saya suka olahraga dan ternyata jarang ada wasit perempuan. Rata-rata mereka tidak bertahan hingga jenjang nasional,” tambahnya.

Meski awalnya ditentang orang tua, semangat Lisa tak lantas kendor. Dengan membobol tabungannya sendiri sebanyak Rp2 juta, ia memutuskan ikut kursus untuk mendapatkan lisensi wasit C3 tingkat kota pada 2013.

Setahun kemudian, dia mengambil kursus mendapatkan lisensi C2 untuk tingkat provinsi dengan kembali membobol tabungannya.

“Orang tua khawatir karena sudah banyak kejadian dimana suporter atau pemain memperlakukan wasit semena-mena di lapangan. Mereka takut saya dipukulin,” selorohnya.

Satu-satunya hambatan saat itu baginya untuk melanjutkan mengambil lisensi wasit C1 tingkat nasional adalah ketika Kementerian Pemuda dan Olahraga memutuskan membekukan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), April tahun lalu.

Artinya tak ada lagi liga nasional, tim nasional, dan pelatihan wasit. Harapan Lisa pun pupus.

Tetapi, dia tak gentar. Lisa menanggapinya dengan maju terus, pantang mundur. Berbagai pertandingan sepakbola antar-klub terus dipimpinnya. Dia juga semakin dikenal dan kerap diminta jadi wasit.

Pengalaman tak terlupakan

Ada satu pengalaman yang tak pernah dilupakannya. Waktu itu sekitar dua tahun silam, ia menjadi wasit pertandingan sepakbola antar-kampung.

Begitu pertandingan baru berjalan 15 menit, ia menginjak kotoran manusia yang di tepi lapangan. Tanpa peduli dengan ejekan dan cemoohan orang-orang sekitarnya, Lisa terus memimpin pertandingan hingga selesai.

“Saya berpikir positif saja. Ini adalah tanda saya akan jadi wasit hebat ke depannya,” tukasnya sambil tersenyum.

Dia pun menjawab berbagai tantangan dengan kerja keras, termasuk memimpin enam pertandingan dalam sehari.

“Capeknya luar biasa. Kaki sakit sekali, karena harus berlari mengikuti jalannya bola. Jika tidak diimbangi dengan fisik yang prima, fokus bisa hilang. Menjaga konsentrasi di lapangan penting sekali,” katanya.

Nur Holisah memperlihatkan kartu merah saat latihan di Stadion Bea Cukai, Jakarta, 8 Maret 2016. (Zahara Tiba/BeritaBenar)

Memakai hijab

Momen ia semakin dikenal datang ketika Lisa, yang baru memakai hijab dua tahun belakangan, dipercaya memimpin turnamen yang digelar harian olahraga nasional TopSkor, April tahun lalu. Para wartawan beramai-ramai memberitakan kisah Lisa, sebagai wasit perempuan pertama berhijab pertama di Indonesia.

“Hijab tidak membatasi gerak saya di lapangan. Lagipula ada hikmah lain dengan berhijab. Pemain lebih hormat kepada saya,” tuturnya.

Hal ini pula yang lantas diamini Anggota Komisi Wasit DKI Jakarta, Suharto Pandu.

“Karena perempuan lebih bisa mengontrol emosinya. Tensi yang bisa berujung ke perselisihan di lapangan antara pemain dan wasit jadi berkurang,” ujar Suharto kepada BeritaBenar.

Kekhawatiran orang tua Lisa pun berkurang. Apalagi pemasukannya dari memimpin pertandingan sepakbola lumayan membantunya membiayai pendidikannya saat ini.

Apalagi tampaknya jalan Lisa menuju panggung wasit nasional sepertinya sebentar lagi akan terwujud.

Pertikaian panjang Kementerian Pemuda dan Olahraga dan PSSI memasuki babak baru, setelah Mahkamah Agung awal pekan ini memutuskan menolak kasasi yang diajukan pihak kementerian soal gugatan PSSI terhadap Surat Keputusan Menpora terkait pembekuan PSSI.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi akan mempertimbangkan pengajuan peninjauan kembali keputusannya membekukan PSSI. Keputusan ini disambut baik insan pesepakbolaan nasional mulai dari pemain, pelatih hingga wasit.

Menurut Lisa, pemerintah dan PSSI bertanggung jawab terhadap nasib para insan pesepakbolaan nasional dan harus segera mencari jalan keluar terbaik.

“Generasi Evan Dimas (pemain muda nasional) adalah generasi emas sepakbola Indonesia. Sayang sekali kalau dihentikan. Carilah langkah terbaik untuk tidak mematikan mimpi Evan dkk, dan tentunya karier saya menuju wasit nasional. Saya berharap Kemenpora segera mencabut pembekuan PSSI,” tegasnya.

Tak hanya Lisa, Suharto juga berharap agar konflik antara Kemenpora dan PSSI ini segera selesai.

“Agar para wasit ada wadah. Mereka berlatih pasti ilmunya kan harus diaplikasikan. Jika liga bergulir juga pasti mereka ada penghasilan,” kata Suharto.

“Saya sangat optimis ke depannya makin banyak wasit perempuan. Saat ini saja ada perempuan yang ikut di tiap kursus perwasitan. Harapan saya makin banyak Nur Holisah baru ke depannya.”

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.