Korban dan Penyintas, Kisah Pilu Dibalik Gempa Aceh

Presiden Joko Widodo sudah tiba di Aceh dan akan mengunjungi Pidie Jaya untuk memastikan penanganan penyaluran bantuan, evakuasi korban, dan perbaikan infrastruktur berjalan baik.
Nurdin Hasan
2016.12.08
Meureudu
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
161208_ID_Aceh_1000.jpg Seorang pedagang membawa barang yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan toko di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, 8 Desember 2016.
Nurdin Hasan/BeritaBenar

Perempuan 41 tahun duduk termenung di tengah suara gemuruh alat berat yang sedang membersihkan puing reruntuhan deretan rumah toko di Meureudu, ibukota Kabupaten Pidie Jaya, Kamis siang, 8 Desember 2016.

Air mata membasahi pipi Jannati yang memilih menyendiri dan tak memperdulikan orang-orang yang lalu lalang.

“Saya kenal baik Suharnas. Sejak dia kecil, saya kerja mencuci pakaian di rumah ibunya. Keluarga mereka baik sekali sama saya,” tutur Jannati kepada BeritaBenar.

Suharnas ialah pemilik toko yang menjual jam di Meureudu. Pemuda 33 tahun itu rencananya menempuh hidup baru dengan belahan jiwanya, Kamis pagi. Namun ternyata takdir berkata lain. Ia termasuk seorang dari 102 korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 6,5 Skala Richter, yang mengguncang Aceh, sehari sebelumnya.

Sejatinya, Jannati ikut menemani Suharnas dalam rangkaian acara pernikahan pemuda itu, karena orang tua Suharnas telah meninggal dunia sejak lama.

“Saya sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Ia sangat baik. Anaknya penurut dan rajin shalat,” tutur Jannati, sambil menghapus air mata di pipinya.

Selain Suharnas, terdapat tujuh familinya yang juga meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan toko.

Ketujuh keluarga yang datang dari Banda Aceh dan Medan itu tidur di toko Suharnas karena menunggu keesokan hari untuk mengantar mempelai pria ke rumah calon istrinya.

Tim pencari korban gempa menemukan 23 orang meninggal di deretan pertokoan yang ambruk. Seluruh korban langsung dikebumikan begitu berhasil dievakuasi.

Jannati yang tinggal hanya sepelemparan batu dari toko Suharnas berhasil keluar rumah begitu gempa mengguncang.

Pencarian korban

Lima alat berat dikerahkan sejak Kamis pagi untuk membersihkan reruntuhan puluhan toko di Meureudu karena menurut kabar masih ada warga terperangkap di bawahnya.

Personil Polri/TNI dan petugas badan penanggulangan bencana sigap memantau proses pembersihan lokasi. Ribuan warga menonton, sementara para pedagang berusaha menyelamatkan barang yang masih bisa dipakai.

"Menurut informasi masih ada yang terperangkap di bawah. Kabarnya lima orang," kata seorang petugas BPBD.

Informasi yang sama juga dikatakan beberapa warga setempat.

"Belum semua dikeluarkan, tapi saya tidak tahu berapa orang terperangkap di bangunan rumah toko itu," tutur Muhammad Cut, warga setempat.

Muhammad berhasil menyelamatkan diri begitu gempa mengguncang meski dalam kondisi gelap gulita karena listrik mati.

“Anak saya yang tidur di salah satu toko mengalami luka-luka. Sekarang dirawat di rumah sakit,” katanya.

Tapi hingga menjelang petang, tidak ada seorangpun korban yang ditemukan dari puing-puing bangunan toko tersebut.

Kepala BPBD Pidie Jaya, Puteh Manaf, mengatakan seluruh korban tertimbun bangunan di beberap lokasi sudah berhasil dievakusi petugas yang bekerja hingga Rabu malam.

Pembersihan puing-puing juga terlihat di beberapa lokasi yang terdampak gempa. Alat berat eskavator merontokkan bangunan untuk kemudian diangkut dengan truk ke tempat pembuangan.

Seorang warga berdiri di antara eskavator yang sedang membersihkan puing reruntuhan toko di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, 8 Desember 2016. (Nurdin Hasan/BeritaBenar)

Jokowi ke Aceh

Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang tiba di Banda Aceh, Kamis sore, segera memimpin rapat koordinasi penanganan gempa bersama beberapa menteri terkait dan Pelaksana Tugas Gubenur Aceh, Soedarmo.

Jokowi akan mengunjungi Pidie Jaya, Jumat, untuk memastikan penanganan penyaluran bantuan, evakuasi korban, dan perbaikan infrastruktur pendukung berjalan dengan baik. Selain itu, dia juga akan menjenguk para korban gempa.

"Saya sudah memerintahkan Kepala Staf Kepresidenan. Saya perintahkan juga Panglima TNI, Menteri Kesehatan, Kepala BNPB untuk terjun (ke lokasi gempa) karena setiap jam yang saya ikuti, korbannya terus bertambah," katanya seperti dilansir dalam siaran pers yang diterima BeritaBenar.

Hingga Kamis sore, jumlah korban meninggal dunia yang terkonfirmasi telah mencapai 102 orang dengan rincian 99 orang di Pidie Jaya, dua warga Kabupaten Bireuen dan satu lagi di Kabupaten Pidie.

Selain itu, 700-an warga mengalami luka-luka yang kini dirawat di beberapa rumah sakit di Aceh.

Warga mengungsi

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam rilis yang diterima BeritaBenar mengungkapkan, jumlah warga yang mengungsi mencapai 11.142 orang dan 10.534 bangunan rusak.

Sementara, bantuan makanan dan air mineral dari berbagai pihak terus mengalir untuk korban gempa yang sebagian tetap memilih bertahan di desa-desa mereka. Warga telah mendirikan tenda di desanya karena rumah mereka rusak.

Zulkifli, Sekretaris Desa Kuta Pangwa di Kecamatan Trieng Gadeng, mengatakan seluruh rumah yang mencapai 189 unit di desanya rusak. Akibatnya, 860 warga harus tidur di bawah tenda-tenda darurat yang mereka dirikan.

“15 warga desa saya meninggal dunia akibat tertimpa rumah yang ambruk begitu gempa terjadi,” katanya kepada BeritaBenar.

Warga desa itu sudah mendirikan posko darurat untuk menampung bantuan di mushalla yang juga mengalami kerusakan.

“Jika warga ingin memasak sendiri, kami bagikan beras dan lauk pauk,” kata Zulkifli yang sempat tertimpa rumahnya, tapi berhasil menyelamatkan diri dengan cara merangkak.

Ia tidak bisa lama terlarut dalam duka, karena harus sigap membantu korban lainnya.

Sementara itu di Meureudu, Jannati masih memilih untuk menyendiri sambil sesekali menghapus air matanya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.