Jokowi akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan depan bahas G20

Pengamat menilai Jokowi ingin menunjukkan Indonesia bisa sukses selenggarakan KTT itu di tengah perang Rusia di Ukraina.
Dandy Koswaraputra dan Alvin Prasetyo
2022.07.21
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Jokowi akan bertemu Presiden China Xi  Jinping di  Beijing pekan depan bahas G20 Presiden Indonesia Joko Widodo berbicara dengan Presiden China Xi Jinping saat sesi foto di depan Istana Osaka pada KTT G20, di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019.
[Tomohiro Ohsumi/Pool via Reuters]

Presiden Joko Widodo akan mengunjungi China, Jepang dan Korea Selatan minggu depan ditengah upaya Indonesia untuk mencari kesamaan pandangan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi G20 pada November dimana anggota kelompok negara dengan ekonomi utama itu saat ini terpecah karena perang Rusia di Ukraina.

“Sebagaimana kita ketahui, ketiga negara tersebut merupakan mitra strategis Indonesia di bidang ekonomi,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi kepada jurnalis dalam keterangan persnya, menambahkan China, Jepang dan Korea juga merupakan mitra strategis Indonesia dan ASEAN.

Di Beijing, Jokowi akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, yang jarang menerima kunjungan kepala negara asing sejak pandemi COVID-19 mulai melanda negara tersebut pada akhir 2019.

“Presiden Joko Widodo adalah kepala negara asing pertama yang mengunjungi China sejak Olimpiade Musim Dingin Beijing, dan China akan menjadi perhentian pertama dalam perjalanan pertamanya ke Asia Timur sejak awal COVID-19,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin.

Jokowi mengunjungi Beijing pada 26 Juli, kemudian langsung bertolak ke Tokyo esok harinya dan mengakhiri kunjungan kerjanya di Seoul pada 28 Juli, kata Retno.

“Fokus kunjungan adalah membahas penguatan kerja sama ekonomi, khususnya di bidang perdagangan dan investasi,” tambah Menlu.

Retno menekankan bahwa China merupakan mitra dagang Indonesia terbesar dengan total nilai perdagangan US$110 miliar (Rp 1.652,7 triliun) pada 2021 dan merupakan investor ketiga terbesar dengan total nilai investasi sekitar US$3,2 miliar pada tahun lalu.

Wang Wenbin, mengatakan Jokowi dan pemimpin China akan bertukar pandangan mendalam tentang hubungan bilateral dan isu-isu besar regional dan internasional.

Mereka juga akan membahas tentang KTT G20 dan bagaimana menghadapi tantangan global serta berkontribusi lebih banyak pada kesetaraan dan keadilan global, kata Wang, seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Di Tokyo, Jokowi akan bertemu Perdana Menteri Fumio Kishida.

Jokowi kemudian akan bertemu dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dan kalangan bisnis lokal di penghujung tur ke Asia Timur itu.

Upaya sukseskan presidensi G20

Agus Haryanto, dosen hubungan internasional di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, mengatakan Jokowi mengunjungi ketiga negara itu untuk kepentingan sebagai presidensi G20, calon ketua ASEAN pada 2023, dan hubungan bilateral.

“Indonesia ingin menunjukkan baik ke publik internasional ataupun masyarakat Indonesia mengenai kesuksesan kita menyelenggarakan G20 di tengah krisis perang Rusia-Ukraina,” kata Agus kepada BenarNews.

Sementara Barat menginginkan Rusia untuk tidak diundang ke KTT G20 sebagai protes atas invasi Kremlin ke Ukraina, anggota lainnya seperti Indonesia, China dan India menolak untuk memboikot Moskow.

Namun demikian, Indonesia juga mengundang Ukraina yang bukan anggota G20 sebagai tamu. Sebelumnnya Presiden  AS Joe Biden sempat menyatakan kepada para anggota G20 agar Ukraina diundang ke perhelatan tersebut jika Rusia tidak dikeluarkan.

Pertemuan menteri luar negeri G20 di Bali beberapa minggu lalu diwarnai dengan keluarnya Menlu Rusia Sergey Lavrov dari sesi pertemuan di tengah kecaman terhadap Kremlin atas invasinya terhadap Ukraina.

Menlu Retno dalam pertemuan itu mengatakan bahwa partisipan KTT Menlu G20 prihatin atas dampak dari konflik Rusia-Ukraina terhadap pangan, energi dan keuangan global.

Jokowi, yang melawat ke Ukraina dan Rusia bulan lalu dalam kunjungan yang disebutnya sebagai “misi perdamaian” telah memperingatkan bahwa krisis pangan global yang disebabkan oleh perang Rusia di Ukraina itu akan menyebabkan masyarakat di negara-negara berkembang dan miskin akan jatuh ke dalam “jurang kemiskinan dan kelaparan yang ekstrem”.

Pengamat dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ramdhan Muhaimin, juga mengatakan kunjungan Jokowi ke China, Jepang dan Korea Selatan itu terkait G20.

“Ketiga negara itu juga anggota G20 di mana Indonesia adalah presidennya,” ujar Ramdhan.

“Saya kira kunjungan ini juga dalam konteks tersebut, di mana Indonesia sedang membangun komunikasi sangat proaktif dengan anggota-anggota G20 di luar pertemuan formal.”

Ia juga mengatakan kunjungan Jokowi itu terkait keeratan hubungan antara ASEAN dan ketiga negara Asia Timur itu.

“Investasi dan bantuan dari ketiga negara tersebut terhadap pembangunan Asia Tenggara pasca krisis sangat signifikan,” kata Ramdhan.

Hingga saat ini, kata dia, relasi regional kedua kawasan sangat erat dan berlangsung baik, sehingga sangat wajar jika bantuan dan investasi China, Jepang dan Korsel bertaburan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Selain itu, kata Ramdhan, isu Laut China Selatan juga menjadi masalah penting yang perlu diselesaikan dengan diplomasi politik dalam pertemuan ketiga negara tersebut, terutama dengan China.

Jepang, Korsel, dan China punya kepentingan nasional saling berseberangan, dan histori mereka yang terlibat konflik di masa lalu, kata dia.

“Di sisi lain, perairan mereka berterusan dengan Laut China Selatan, dimana China dalam hal ini ada urusan dengan Indonesia terkait klaim unilateralnya terhadap kedaulatan Indonesia di Natuna.

Menurut Ramdhan, di kawasan Laut China Timur hingga ke Laut China selatan adalah hotspot konflik internasional.

“Jika kawasan ini meledak konfliknya, dampak secara langsung akan dirasakan Indonesia. Karena itu Indonesia sebagai backbone Asia Tenggara perlu terus berkomunikasi diplomatik dengan negara-negara Asia Timur,” ujarnya. 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.