Keluarga Adalah Kunci ISIS Merekrut Pengikut

Oleh Zahara Tiba dan Paramita Dewiyani
2015.04.07
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150407_ID_ZAHARA_PARAMITA_ISIS_REKRUT_KELUARGA_VG_700.jpg Pengungsi Yazidi tinggal di kamp-kamp di Turki karena serangan ISIS yang menyiksa perempuan dan anak-anak, 29 Oktober, 2014.
AFP

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menghancurkan keluarga dengan janji-janji palsu untuk kehidupan yang lebih baik, kata saudara perempuan pendukung ISIS yang sekarang ditahan oleh pemerintah dengan dugaan terkait kelompok ekstremis

“Cara ISIS merekrut lewat keluarga semakin banyak terjadi. Karena keluarga adalah yang paling kita percaya. Iming-iming hidup makmur, tapi ini adalah omong kosong,” kata Nur Camelia, saudara perempuan tersangka pengikut ISIS Abdul Hakim Munabari.

Abdul ditangkap di Malang tanggal 25 Maret dengan tuduhan terkait jaringan kelompok Salim Al Mubarok alias Abu Jandal.

“Yang ada adalah penyesalan. Jangan terperdaya. Saya tidak tahu bagaimana Abdul memutuskan pergi ke Suriah karena tidak satupun dari keluarga kami yang tahu akan hal itu,” kata Nur kepada BenarNews, tanggal 7 April.

Nur mengatakan ia turut prihatin menyaksikan semakin banyaknya keluarga yang terperdaya untuk pergi ke Suriah dengan iming-iming jaminan hidup yang lebih baik.

“Itu tidak terjadi dalam hidup Adik saya. Yang ada ia sekarang mendekam di penjara. Ini membuat kami sedih,” katanya lanjut.

‘Kehidupan yang lebih baik’

Keenambelas WNI yang tertangkap di kota Gaziantep Turki termasuk perempuan dan anak-anak.

Keempat orang tersebut merupakan warga Ciamis, Jawa Barat, yang tertangkap saat mencoba melintasi perbatasan Turki-Suriah untuk bergabung bersama ISIS.

Bulan Desember 2014 lalu, enam orang warga Makassar ditahan di bandara internasional Soekarno-Hatta, Banten, karena diduga mencoba berangkat ke Suriah. Ketiga orang di antaranya adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan putra mereka yang baru berusia sepuluh tahun.

“Mereka saat ini tengah gencar merekrut keluarga dengan melakukan propaganda yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik di Suriah ketimbang Indonesia. Itulah kenapa mereka meninggalkan Indonesia,” kata pakar terorisme Nasir Abas yang merupakan mantan anggota Jemaah Islamiah (JI) kepada BenarNews.

Nasir mengatakan saat ini situasi tersebut mungkin belum menjadi ancaman nyata bagi keamanan nasional. Namun dalam beberapa tahun, ancaman itu akan berubah menjadi masalah besar.

“Bagaimana jika nanti anak-anak ini ingin rindu akan kampung halamannya? Lalu mereka bertekad membebaskannya, merebutnya,” kata Nasir.

“ISIS adalah ancaman bagi negeri ini dengan merekrut warga kita dan ikut konflik di sana. Tolong sampaikan kepada keluarga-keluarga kita agar jangan mudah tergiur. Buat anak-anak muda, apapun ajakan itu, klarifikasikan dahulu kepada keluarga, guru, dan lain-lain. Karena salah langkah bisa merugikan keluarga dan orang-orang yang disayang,” katanya mengingatkan.

Juru Bicara BNPT Irfan Idris mengatakan hal senada, bahwa keluarga-keluarga yang memutuskan bergabung dengan ISIS berharap adanya perbaikan ekonomi dan ideologi.

Irfan juga mengatakan video propaganda berjudul “Cahaya Tarbiyah di Bumi Khalifah” yang baru-baru ini beredar di dunia maya telah menjadi fokus negara dalam mengantisipasi ISIS.

Video yang berdurasi dua menit tersebut memperlihatkan sekelompok anak berbahasa Indonesia belajar membaca Quran dan berlatih menggunakan senjata otomatis.

“Untuk itu kita akan kontra propaganda agar tak ada lagi anak-anak di video semacam itu. Video tersebut menunjukkan ISIS sudah berpikir 20-30 tahun ke depan. Anak-anak itu mungkin saat ini berpikir mereka sedang main game bersama dengan teman-temannya dengan mengangkat [senapan] AK47 yang sebenarnya,” kata Irfan.

Tahun Damai ala BNPT

Dengan dicanangkannya tahun 2015 sebagai “Tahun Damai” oleh BNPT, Irfan terus mengingatkan pentingnya pencegahan yang membutuhkan dukungan dari banyak pihak.

“Karenanya jangan dibesar-besarkan tentang ISIS mari terus melakukan kontra ideologi agar mereka yang potensial tidak terpengaruh. Kita melakukan pemberdayaan di sekolah, pesantren, perguruan tinggi, komunitas-komunitas masyarakat dan sebagainya untuk menyebarkan pesan damai,” tukas Irfan.

“Negara tak boleh kalah dengan teroris,” katanya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.