Investasi China di Indonesia naik 100% semester pertama 2022

China merupakan investor terbesar kedua di Indonesia setelah Singapura.
Dandy Koswaraputra
2022.10.24
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Investasi China di Indonesia naik 100% semester pertama 2022 Seorang pekerja melebur nikel di perusahaan pertambangan Indonesia PT Vale di Soroako, Sulawesi Selatan, 30 Maret 2019.
[Bannu Mazandra/AFP]

Investasi China di Indonesia pada semester pertama 2022 melonjak lebih dari 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh pembangunan pabrik, termasuk smelter, menurut data Kementerian Investasi Indonesia, Senin.

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi China pada Januari-Juni tahun ini mencapai US$ 3,6 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan semester pertama 2021, yaitu US$ 1,7 miliar. 

Menurut BKPM, nilai investasi China tersebut untuk membiayai 1.020 proyek sepanjang Januari hingga Juni 2022.

“Saya memiliki keyakinan bahwa Indonesia masih menjadi pilihan investasi, terutama dalam downstreaming,” kata Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di YouTube.

“China mendorong betul hilirisasi. Jadi kalau saya lihat meskipun ada perlambatan di sana (di China), investasi di sini akan baik-baik saja,” katanya.

Bahlil mengatakan penanaman modal asing ke Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini mencapai Rp168,9 triliun atau tumbuh 63,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

“PMA tumbuh 63 persen ini terbesar dalam sepanjang sejarah. Jadi, ini luar biasa sekali,” kata Bahlil.

Ekonom senior Tauhid Ahmad menjelaskan kenaikan nilai investasi China tersebut salah satunya dipicu oleh kebijakan hilirisasi pemerintah.

“China genjot TKDN (tingkat kandungan dalam negeri). Jadi sekarang China banyak bangun pabrik di sini,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) kepada BenarNews. 

Selain itu, kata Tauhid, situasi market di China agak terbatas akibat lockdown sebagai dampak dari pandemi COVID-19 sehingga negara tersebut melakukan ekspansi ke luar.

Tauhid mengatakan Indonesia merupakan pasar besar bagi China yang dengan pertumbuhan ekonomi 4 persen tahun ini berpotensi melakukan ekspansi keluar negaranya setelah selama satu dekade terakhir melakukan kebijakan importasi.

“China sudah full capacity (industri). Jadi cari negara lain (untuk menggenjot investasi),” kata Tauhid, seraya menambahkan bahwa Negara Tirai Bambu itu melakukan investasi besar-besaran pada industri nikel.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, ekspor Indonesia dapat mencapai rekor US$ 280 miliar tahun ini, akibat penjualan baja berbasis nikel meningkat tajam setelah pemerintah melarang ekspor bijih nikel.

Ekspor dapat meningkat lebih dari U$300 miliar pada tahun 2024 karena pemerintah bersiap untuk mengatur ekspor komoditas lain, seperti tembaga, bauksit dan timah, Menteri Luhut Pandjaitan dalam wawancara dengan Reuters, Senin.

Indonesia merupakan pengekspor batubara termal, minyak sawit, timah olahan terbesar di dunia dan penjual utama baja berbasis nikel, tembaga, karet, dan sumber daya lainnya, tulis Reuters.

Pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel pada tahun 2020 dalam sebuah langkah yang telah menarik investasi di fasilitas pemrosesan - sebuah strategi yang disebut oleh pejabat sebagai "hilirisasi sumber daya".

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mendorong perusahaan untuk mengolah komoditas di dalam negeri untuk dapat melipatgandakan nilai ekspor Indonesia, serta menciptakan lapangan kerja dan membantu negara mengambil peran yang lebih besar dalam rantai pasokan global.

Kebijakan Indonesia – sebagai produsen utama nikel dunia – dalam melarang ekspor biji nikel pada 2020 telah mendorong Uni Eropa mengajukan gugatan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) agar pemerintah meninjau ulang kebijakannya.

Data BKPM menunjukkan nilai realisasi  penamanan modal asing (PMA) langsung paling tinggi terjadi pada 2020 yang mencapai US$ 4,84 miliar dengan jumlah proyek sebanyak 3.027.

Dengan nilai investasi China pada semester pertama ini, Tauhid memperkirakan nilai investasi untuk tahun ini bisa mencapai lebih dari US$ 7 miliar.

China merupakan investor terbesar kedua di Indonesia setelah Singapura yang pada semester pertama tahun ini mencapai US$ 6,7 miliar. 

Menurut data Badan Pusat Statistik, nilai investasi Singapura pada 2021 mencapai US$ 9,4 miliar, sementara China hanya US$ 3,16 miliar. 

“Tahun investasi China menurun dibanding 2020 karena ada krisis Evergrande yang merontokkan industri properti di sana,” kata Tauhid.

Ekonom Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menambahkan bahwa China lebih nyaman berpartner dengan pasar Asia dibandingkan dengan sistem Barat, yaitu Eropa dan Amerika Serikat.

“Pada saat ini memang pergeseran orientasi geopolitik Cina akan membangun atmosfer baru melihat kondisi perang Ukraina - Rusia, dan kasus perang dagang dengan USA. China akan merestrukturisasi geopolitik dan ekonomi menjadi kutub yang lebih kuat,” kata Yayan kepada BenarNews.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.