'Diplomasi Masker', Cina Bantu Negara Lain Atasi COVID-19

Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Bangladesh menerima pengiriman pasokan medis dari Beijing.
Imran Vittachi
2020.03.27
Washington
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
200326-GR-CH-aid-shipment-1000.jpg Petugas di bandar udara internasional Athena sedang membongkar muatan kargo dari pesawat Air Cina, yang membawa 500,000 masker perlindungan. Kargo ini merupakan bagian dari paket bantuan Cina untuk menolong Yunani dan negara-negara Eropa lainnya dalam menahan laju penyebaran virus corona.
AFP

Sejumlah negara di Asia Tenggara dan Selatan telah menerima pengiriman bantuan dalam jumlah besar peralatan medis, alat pelindung diri dan alat tes, serta saran medis tentang cara mengobati COVID-19, dari Cina, negara dimana pandemi global tersebut dimulai.

Diplomasi Masker ini, demikian para analis menyebutnya, dinilai sebagai upaya diplomatik Cina untuk membangun posisi internasionalnya sebagai kekuatan yang ramah untuk merangkul negara-negara tetangganya di Asia.

"Untuk negara-negara yang telah membantu Cina dalam perang melawan epidemi ini, kami tanpa ragu-ragu akan membalas kebaikan mereka jika mereka membutuhkannya," ujar Geng Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, dalam konferensi pers, Senin.

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi , yang berada di Indonesia awal minggu ini  mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya bagi Cina untuk membalas dukungan yang telah ditunjukkan negara-negara lain termasuk Indonesia kepada Beijing ketika negara terpadat di dunia itu sedang menghadapi krisis setelah virus tersebut pertama kali mewabah di Wuhan, ibukota provinsi Hubei.

“Sekarang ketika Indonesia sedang berjuang melawan epidemi, kami merasa sangat berempati dan mengutarakan simpati kami yang tulus dan dukungan yang kuat kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia,” kata Wang.

Sebanyak 20 ton alat-alat medis bantuan dari Cina tiba di Indonesia Jumat (27/3) dan 20 ton sisanya akan tiba Sabtu (28/3) untuk mendukung penanggulangan wabah virus corona di Indonesia yang hingga Jumat telah mencapai 1.047 kasus. Dari jumlah tersebut 87 meninggal dan 46 sembuh.

Bantuan yang diangkut dengan pesawat Boeing 777 milik maskapai Garuda Indonesia itu terdiri dari alat tes deteksi COVID-19, masker N95, masker bedah, sarung tangan, kacamata medis, dan alat pelindung diri (APD), kata Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

“Bantuan ini berasal dari investor Tiongkok yang berfokus pada hilirisasi minerba,”  ujar sekretaris kementerian, Agung Kuswandono.

Namun demikian pejabat di Kementerian Luar Negeri Indonesia, Santo Darmosumarto, mengatakan beberapa pasokan tersebut disumbangkan oleh beberapa warga negara Indonesia yang tinggal di Cina.

Kelangkaan APD, seperti juga di negara lain, menjadi masalah besar di Indonesia dan dikeluhkan para medis yang berada di garda terdepan.

“Setiap tenaga kesehatan berisiko untuk tertular COVID-19. Maka, kami meminta terjaminnya alat pelindung diri (APD) yang sesuai untuk setiap tenaga kesehatan,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Daeng M. Faqih, dalam pernyataannya, Jumat (27/3).

"Bila hal ini tidak terpenuhi maka kami meminta kepada anggota profesi kami untuk sementara tidak ikut melakukan perawatan penanganan pasien COVID-19 demi melindungi dan menjaga keselamatan sejawat.

IDI mencatat telah ada delapan dokter yang meninggal dunia sejak kasus positif COVID-19 diumumkan di Indonesia pada awal Maret 2020.

Seorang petugas mengecek paket bantuan medis dari Cina untuk membantu penanggulangan COVID-19 di Indonesia, di terminal kargo di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 27 Maret 2020. [AFP]
Seorang petugas mengecek paket bantuan medis dari Cina untuk membantu penanggulangan COVID-19 di Indonesia, di terminal kargo di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 27 Maret 2020. [AFP]

Bantuan Cina di Asia

Tidak hanya Indonesia, negara lain di Asia juga mendapatkan bantuan dari Cina.

Noor Hisham Abdullah, direktur jenderal Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa otoritas kesehatan di Malaysia - di mana kasus infeksi virus corona telah mencapai 2.000 – telah mengadakan teleconference dengan para ahli dari Cina pada hari Kamis, untuk membahas upaya mengendalikan tingkat infeksi yang melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

"Kami sedang mempelajari hal-hal baru untuk membantu kami memerangi COVID-19. Ada obat-obatan baru dari Cina, dari Jepang," katanya kepada wartawan, sambil menambahkan bahwa beberapa obat mungkin belum disetujui untuk digunakan di Malaysia dan efek sampingnya masih perlu dipelajari.

Cina telah mengirim ke Malaysia pasokan alat pelindung, pembersih tangan, dan bahan-bahan lain untuk memerangi virus, katanya.

Beijing bahkan telah menawarkan untuk mengirim dokter ke Malaysia, katanya, "tapi, syukurlah, sejauh ini kami memiliki cukup dokter."

BSS, kantor berita pemerintah Bangladesh, melaporkan bahwa satu pesawat Cina tiba di Dhaka pada hari Kamis untuk mengirim 10.000 alat uji COVID-19 dan persediaan alat medis lainnya yang disumbangkan oleh Cina.

Sementara itu di Thailand, Kementerian Kesehatan setempat mengumumkan pada hari Kamis bahwa mereka telah menerima pengiriman puluhan ribu alat tes COVID-19, masker bedah dan pakaian pelindung diri yang disumbangkan dari sebuah yayasan yang mempunyai kaitan dengan konglomerat Jack Ma, orang terkaya di Cina dan telah menerima pengiriman pasokan yang disumbangkan oleh pemerintah Cina pada awal minggu ini.

Di Filipina, Departemen Luar Negeri negara itu mengumumkan bahwa mereka juga telah menerima sumbangan pasokan medis dalam jumlah besar dari Cina, yang terdiri dari masker bedah, peralatan pelindung, dan alat tes.

Analis: Pencitraan yang Baik bagi Cina

Beberapa pihak berargumen bahwa Beijing melakukan upaya pengendalian kerusakan setelah mendapat kecaman karena menutupi krisis corona pada tahap awal ketika virus itu muncul di pusat kota Wuhan November lalu. Cina juga dipersalahkan karena tidak memberi dunia peringatan yang cukup dini.

"Di antara kesalahan seriusnya pada awal wabah di Wuhan adalah kegagalan untuk berkomunikasi," kata Council of Foreign Relations, sebuah think-tank yang berbasis di New York, dalam sebuah laporan minggu ini. "Pemerintah daerah menyembunyikan informasi tentang virus dari masyarakat dan pemerintah pusat dan membungkam para dokter yang berani bicara mengenai hal itu."

Menurut Rommel Banlaoi, seorang pakar tentang Cina yang berbasis di Filipina, upaya Beijing, melalui penggapaiannya ke negara-negara tetangganya selama wabah virus corona dengan mengirim bantuan ke mereka adalah "untuk terus membangun citranya sebagai kekuatan besar yang ramah dan bertanggung jawab."

“Cina juga ingin membantah kritik negara-negara Barat akan pendekatannya yang keras saat menangani pandemi. Sekarang setelah Cina pulih dari dampak buruk pandemi, ia ingin memberi tahu kepada dunia bahwa Cina dapat memberikan pelajaran yang bermanfaat dari pengalaman yang baru dilaluinya,” ujar Banlaoi, yang mengepalai lembaga kajian Institut Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme Filipina, kepada BenarNews.

Langkah bantuan Cina terkait penanggulangan COVID-19  di Asia juga dapat membantu meredakan kekhawatiran yang sudah lama ada di kawasan tersebut mengenai One Belt, One Road Initiative Cina yang bertujuan mendanai dan membangun proyek infrastruktur raksasa.

Sejumlah pemerintah dan pakar di kawasan itu, sementara mengakui bahwa inisiatif itu akan meningkatkan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, juga mengkhawatirkan bahwa proyek-proyek berbiaya tinggi itu dapat menjadi perangkap utang bagi pemerintah yang meminjam sejumlah besar uang dari Cina untuk membangun infastruktur-infastruktur publik itu.

Analis lain mengatakan bahwa sumbangan Cina berupa pasokan alat medis dan masker dalam jumlah besar ke negara-negara lain selama krisis virus corona ini menjadi "sangat penting untuk merehabilitasi citra Cina yang secara historis menjadi buruk dan bahkan belum lama ini juga memalukan di wilayah-wilayah tertentu."

"Melalui tawaran bantuan darurat di saat-saat kritis seperti bencana alam dan krisis kesehatan masyarakat .Cina memperoleh akses yang tak tertandingi dan signifikan ke infrastruktur penting di negara-negara yang telah membuka diri ke Cina," Brian Wong, seorang ilmuwan politik dan kandidat doktor filosofi di Oxford University, menulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The Diplomat minggu ini.

Bermasalah

Bantuan Cina tidak hanya untuk negara-negara tetangganya di Asia namun juga menjangkau Eropa. Hanya saja tidak seperti di Asia yang bantuan diterima baik, di Eropa dilaporkan terjadi sejumlah masalah dengan bantuan itu.

Media melaporkan 80 persen alat tes cepat pengujian COVID-19 bantuan Cina untuk Republik Ceko telah menghasilkan hasil yang keliru, kata Taiwan News mengutip pernyataan pejabat Ceko.

Di Washington, seorang anggota parlemen AS yang juga anggota senior Komite Urusan Luar Negeri mengecam laporan-laporan yang menyatakan bahwa Tiongkok menjual peralatan medis yang rusak ke negara-negara yang terkena virus itu, seperti Republik Ceko dan Spanyol.

"Sementara Partai Komunis Cina berusaha mati-matian untuk mengalihkan kesalahan dengan menyebut dirinya sebagai pelindung kesehatan global, kebenaran sekarang muncul di belakang propaganda yang mereka ciptakan," kata anggota Kongres Michael McCaul dalam sebuah pernyataan.

Di Washington sendiri pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengumumkan bahwa AS menyediakan $ 274 juta bantuan tambahan negara-negara itu ke negara-negara lain untuk memerangi wabah COVID-19.

AS akan menggunakan dana tersebut untuk "64 negara paling berisiko di dunia untuk memerangi pandemi itu" dan membantu  Badan Pengungsi PBB untuk “menolong sejumlah penduduk yang paling rentan di dunia,” kata Pompeo.

Ahmad Syamsudin dan Ronna Nirmala di Jakarta, Noah Lee dan Nisha David di Kuala Lumpur, Jason Gutierrez di Manila, dan Pimuk Rakkanam di Bangkok turut berkontribusi untuk artikel ini.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.