Survei: Sebulan Menjelang Pemilu Jokowi Masih Unggul

Pengamat menilai debat capres sebatas pemaparan program.
Ahmad Syamsudin & Ismira Lutfia Tisnadibrata
Jakarta
2019-03-18
Share
1190318_ID_VPcandidate_1000.jpg Kandidat wakil presiden, Ma’ruf Amin (tengah) dan Sandiaga Uno (kiri) menandatangani perjanjian kampanye damai di Monumen Nasional Jakarta, 23 September 2018.
AFP

Sebulan sebelum pemilihan presiden, petahana Presiden Joko “Jokowi” Widodo masih memimpin dengan pencapaian suara lebih dari 54%, demikian hasil survei terakhir sejumlah lembaga.

Empat survei yang dirilis bulan ini menempatkan elektabilitas Jokowi antara 54% dan 57%, dibanding sekitar 34 % untuk kandidat oposisi, Prabowo Subianto, sementara 11 % pemilih tidak memberi keputusan. .

Jajak pendapat yang dirilis pada hari Minggu oleh lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), memprediksikan Jokowi akan memenangkan 57,6% suara jika pemilihan diadakan hari ini.

"Jarak perolehan suara antara pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno dalam pertarungan pemilihan Presiden 2019-2024 semakin melebar hingga melampaui 25%," kata Direktur SMRC Djayadi Hanan di Jakarta, Minggu, seperti dikutip di Antara.

Namun dia tidak mengetahui apakah keadaan tersebut akan sama atau berubah dalam sebulan ini.

Jokowi memilih Ma’aruf Amin (76 tahun) ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk meningkatkan citra dukungannya terhadap Islam setelah ia dituduh oleh kelompok Muslim garis keras telah memusuhi ulama.

Sejumlah kelompok-kelompok Islam konservatif seperti Front Pembela Islam telah merapat ke kubu Prabowo dengan tujuan jangka pendek membendung terpilihnya kembali Jokowi. Namun hal ini tidak akan berhasil, demikian menurut Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) dalam laporan mereka yang dirilis minggu lalu.

"Dukungan mereka untuk (Prabowo) bersyarat dan setengah hati, tetapi langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Jokowi untuk mencoba melemahkan, mengkooptasi dan menstigmatisasi mereka sebagai ekstremis hanya memperkuat kelompok ini yang sebenarnya adalah aliansi yang rapuh," kata IPAC.

"Ketakutan mereka terhadap kemenangan Jokowi jauh lebih kuat daripada keraguan mereka tentang Prabowo," katanya.

Sementara Ma’aruf telah memoderasi dirinya untuk menarik pemilih yang lebih liberal, kubu Prabowo berusaha menggambarkan sawapres Sandiaga Uno (49), seorang pengusaha muda yang kaya dengan latar belakang pendidina Amerika Serikat, sebagai seorang Muslim yang saleh.

“Gagasan untuk menggambarkan Prabowo sebagai orang kuat dan tangan kanannya, Sandi sebagai seorang wirausahawan yang saleh, mewujudkan dua tren di Indonesia: nostalgia pada Orde Baru yang dipimpin Suharto dan meningkatnya konservatisme kelas menengah,” kata IPAC.

Bukan debat

Dalam debat calon wakil presiden yang disiarkan melalui TV secara nasional pada Minggu malam, 17 Maret 2019, baik Sandiaga maupun Ma’aruf tampak menghindari perdebatan yang membahas masalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sosial budaya itu.

Pengamat menilai debat keduanya sebatas pemaparan program masing-masing kubu secara monolog tanpa perdebatan yang sebenarnya.

“Tidak ada perdebatan yang konstruktif dan korektif. Mungkin Sandiaga sungkan untuk kelihatan terlalu mendebat Ma’ruf,” ujar pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, kepada BeritaBenar, Senin, 18 Maret 2019.

Menurutnya, perbedaan umur antara kedua cawapres dan posisi Ma’ruf sebagai ulama berpengaruh pada posisi kurang egaliter untuk melakukan debat, sehingga Sandiaga tak terlalu agresif mendebat Ma’ruf.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran, Idil Akbar juga berpendapat sama.

“Tidak terjadi suatu perdebatan dimana ada yang memberikan argumen dan yang lain melawan argumen tersebut. Perdebatan hanya muncul sedikit di akhir acara,” ujar Idil kepada BeritaBenar.

Idil menilai Ma’ruf tampil di luar dugaan dan lebih artikulatif dalam menyampaikan paparannya, setelah lebih banyak diam pada debat pertama bersama pasangan calon presiden Joko “Jokowi” Widodo, 17 Januari lalu.

“Ma’ruf berbicara secara terstruktur dan sistematis. Banyak data-data yang disampaikan Beliau,” ujar Idil.

Wasisto menilai Ma’ruf terlihat visioner dengan pemaparan, tapi belum bisa memainkan psikologi publik.

“Sandi lebih piawai memasukkan kata-kata kunci yang mudah diingat masyarakat dan merupakan kristalisasi masalah yang dihadapi pemerintah sekarang seperti BPJS, tenaga kerja,” ujar Wasisto.

Program

Sandi mengatakan salah satu program yang akan dijalankan bersama Prabowo Subianto, akan membereskan masalah yang membelit program jaminan kesehatan nasional yang dikenal sebagai BPJS dalam 200 hari pertama pemerintahannya, jika mereka terpilih.

“Saya akan turun tangan sendiri bersama Pak Prabowo, pastikan tidak ada layanan kesehatan masyarakat yang ditinggalkan, tenaga medis juga kita akan pastikan mendapatkan honor tepat waktu juga obat-obatan disediakan,” ujar Sandiaga.

Sementara Ma’ruf menegaskan program jaminan kesehatan nasional terus berlanjut bila Jokowi dan dia terpilih pada pemilihan 17 April nanti.

Ma’ruf juga menegaskan berbagai program sosial yang ditawarkan kubunya, ditandai dengan berbagai kartu.

“Kami juga bertekad untuk memperbesar manfaat dan masalah program yang telah ada sekarang ini, karena itu kami akan mengeluarkan tiga kartu Kartu KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah, Kartu Sembako Murah, Kartu Pra Kerja,” ujar Ma’ruf sambil menunjukkan kartu-kartunya.

Ma’ruf mengatakan manfaat kartu-kartu tersebut berguna agar anak-anak dari keluarga miskin bisa kuliah, ibu-ibu bisa berbelanja dengan murah, dan yang belum mendapatkan pekerjaan setelah selesai sekolah mudah untuk mendapatkan kerja karena pemerintah menyediakan tempat latihan dan tempat kursus gratis.

Tapi di akhir debat, Sandiaga mengeluarkan jurus untuk mendebat secara tidak langsung penunjukan kartu-kartu oleh Ma’ruf dengan mengajak pemirsa televisi yang menonton dan yang hadir di lokasi debat untuk mengeluarkan kartu yang semua orang sudah punya, yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik.

“Ini super canggih sudah memiliki chip teknologi di dalamnya revolusi industri 4.0, memudahkan dengan big data dan single identification number semua fasilitas layanan, baik ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan,” ujar Sandiaga.

Stunting

Isu lain yang dibahas dalam bidang kesehatan ialah stunting, dimana Ma’ruf menyebutkan keberhasilan pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla telah menurunkan angka stunting sampai 7% dan akan terus dalam lima tahun mendatang sampai 10% hingga mencapai penurunan 20%.

Sandiaga menyebutkan dirinya dan Prabowo akan berusaha agar ibu-ibu mendapatkan protein cukup dengan konsumsi susu dan protein lain, dan diharapkan program tersebut bisa menurunkan stunting secara signifikan dalam lima tahun ke depan.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Ari Fahrial Syam, mengatakan pengetahuan kedua kandidat tentang stunting masih belum optimal namun menurutnya itu hal wajar karena memang kedua calon tidak mempunyai latar belakang kesehatan.

“Stunting bukan saja masalah asupan makanan tetapi yang penting adalah stunting juga bicara soal kemiskinan, kemampuan untuk membeli makanan bergizi baik untuk ibu calon ibu, bayi baru lahir dan asupan makan untuk balita,” ujar Ari dalam pernyataan yang diterima BeritaBenar.

“Ini merupakan penanganan yang menyeluruh dengan melibatkan semua sektor karena berhubungan dengan kehidupan yang layak dengan terpenuhi kehidupan primer dengan ditunjang oleh fasilitas kesehatan yang memadai,” ujar Ari.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya