Tewasnya Tangan Kanan Santoso Tidak Akan Melemahkan MIT: Pakar

Oleh Maeswara Palupi
2015.04.06
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150406_ID_MAESWARA_DAENGKORO_DIED_700.jpg Polisi berjaga di depan kamar jenazah Daeng Koro di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah di Palu, tanggal 4 April.
BenarNews

Kepolisian memastikan anggota militan yang tewas di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah dalam baku tembak tim gabungan Densus 88 dan Brimob adalah Daeng Koro, tangan kanan Santoso, gembong militan Poso, dan salah satu pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

“Nama asli Daeng Koro adalah Sabar Subagio. Ia adalah orang kunci pengadaan senjata inventaris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Daeng juga penghubung penting antara Kelompok MIT dengan kelompok radikal Makassar. Ia pakar strategi gerakan MIT,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Rikwanto kepada BenarNews tanggal 6 April.

Daeng tewas tanggal 3 April dengan tembakan di dada setelah sempat meloloskan diri beberapa kali dari sergapan polisi. Nama Daeng sudah lama berada dalam Daftar Pencarian Orang hilang (DPO).

Meskipun polisi masih menunggu hasil DNA test, istri Daeng, Nurjanah beserta tiga anaknya datang ke kamar jenazah untuk memastikan.

“Saya melihat ketika Nurjanah memasuki kamar jenazah dengan pakaian burqa. Beberapa menit kemudian suara isak tangis terdengar,” kata Rumiha Arini yang berada di tempat kejadian tanggal 5 April.

“Nurjanah menyatakan bahwa itu adalah suaminya dari tanda lahir, ukuran kaki dan gigi,” kata Idham Aziz, Kapolda Sulawesi Tengah.

Siapakah Daeng Koro?

Kepala Seksi Penerangan Media Kopassus mengatakan Daeng adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Tahun 1985 ia gagal ujian tes fisik di Komando Pasukan Khusus (Kopassus),” kata Achmad Munir, dalam konferensi pers di Jakarta tanggal 6 April.

Setelah gagal Daeng masih berada dalam lingkup militer, ia terlibat dalam kegiatan olah raga voli. Tapi ia akhirnya dikeluarkan dari TNI karena melakukan perbuatan zina dengan isteri prajurit.

“Ia menjalani hukuman tujuh bulan di Rumah Tahanan Militer (RTM) melalui proses sidang peradilan militer tahun 1992,” jelas Achmad.

Keterlibatan Daeng dengan militan Poso

Menurut Kepolisian, Daeng terlibat peristiwa teroris sejak Juni 2012 dengan beberapa nama samaran: Jimmy, Autad Rawa, Ocep dan Abu Muhammad.

Ia melatih kelompok radikal – terutama saat meletupnya konflik di Ambon dan Poso.

“Daeng adalah pelatih dan ketua pelaksana kamp militan di Morowali, Gunung Tamanjeka (Sulawesi Tengah), serta di Mambi, Sulawesi Barat. Ia juga aktor utama pembunuhan beberapa polisi di Poso and anggota TNI di tahun 2012,” kata Rikwanto.

Aksi teror Daeng meluas dengan merakit dan meledakkan bom di beberapa wilayah Poso Pesisir Selatan tahun 2014.

Kematian Daeng Koro Takkan Melemahkan MIT

“Pengikut MIT masih banyak. Kematian Daeng tidak akan menghilangkan MIT,” kata pakar studi terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib‎ di Jakarta, tanggal 4 April.

Ridlwan berkata baku tembak antara Densus 88 dengan kelompok MIT jaringan Santoso merupakan ekses latihan TNI di Gunung Biru, Poso, Sulawesi Tengah. Operasi tersebut, lanjut Ridlwan, membuat kamp Santoso yang berada di Gunung Biru terancam.

“TNI menggunakan mortir ke arah gunung dan menganggu kelompok ini. Kelompok militan melakukan pergeseran dan evakuasi. Seharusnya apparat meringkus Daeng dan MIT sejak dulu karena tindakan mereka sudah tercium sejak 2010 ketika membunuh apparat dan merampok bank,” lanjut Ridlwan.

Berbagai spesifikasi muncul dalam masyarakat tentang TNI yang telah melakukan operasi penumpasan terorisme berdalil latihan gabungan Anoa 2015.

“Dengan latihan militer jaringan Santoso menyempit dan mereka menuju perkampungan untuk mencari logistik,” katanya.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan kelompok MIT sudah lama menjadi target apparat.

"MIT berdiri sejak tahun 2002 dan sudah bergabung dengan ISIS. Tewasnya Daeng bisa jadi melemahkan aksi teror di Poso, tapi ini tergantung bagaimana pemerintah menyikapinya," tambahnya.

Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati menilai tewasnya Daeng bisa memicu balas dendam.

"Keluarga atau anggota MIT bisa balas dendam jika kegiatan Bimbingan Masyarakat (Bimmas) dari Polisi dan deradikalisasi utamanya oleh Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) tak dilaksanakan secara serius dan komprehensif," kata Susaningtyas saat dihubungi BenarNews, tanggal 5 April.

M. Taufan SP Bustan memberikan kontribusi dalam artikel ini.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.