China desak Indonesia tolak "campur tangan" dalam memimpin G20

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan G-20 merupakan forum untuk membahas isu ekonomi, bukan politik dan keamanan
Dandy Koswaraputra
2022.05.26
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
China desak Indonesia tolak "campur tangan" dalam memimpin G20 Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua, Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kanan) bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dalam pertemuan di Kota Nanping di Provinsi Fujian, China tenggara pada Jumat, 2 April 2021.
[Xinhua via AP]

China meminta Indonesia untuk menolak “campur tangan” dalam melaksanakan kepemimpinan G20 tahun ini, sebuah pernyataan yang tampaknya mengacu pada permintaan negara-negara Barat agar pertemuan pemimpin G20 mendatang membahas perang Rusia di Ukraina.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan keinginannya kepada Retno Marsudi, dalam percakapan telepon, Rabu, agar Indonesia lebih memfokuskan pada isu ekonomi sesuai dengan tujuan dibentuknya G20, ketimbang membahas masalah politik dan keamanan. 

“China dengan tegas mendukung Indonesia dalam memainkan perannya sebagai presiden, menghilangkan campur tangan untuk mencapai tujuan agenda yang telah ditetapkan, dan memimpin G20 ke arah yang benar,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri China.

“Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah platform yang tepat untuk membahas masalah politik dan keamanan, sementara G20 harus tetap berkomitmen untuk fokus pada koordinasi kebijakan ekonomi makro dan memenuhi misinya,” tulis pernyataan itu.

Dalam percapan telepon itu, Wang juga disebut mengatakan apa yang pernah disampaikan Presiden Joko “Jokowi” Widodo kepada Presiden China.

“Presiden Joko Widodo telah menegaskan kembali bahwa sejak pembentukannya, G20 merupakan forum ekonomi, bukan forum politik, dan China sepenuhnya sepakat dengannya dalam hal ini,” kata Wang.

Bulan lalu, Presiden Jokowi mengatakan dia telah mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang negaranya diinvasi Rusia pada Februari, ke konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 yang dijadwalkan diadakan di Bali pada bulan November nanti

Jokowi juga mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia untuk datang ke KTT yang sama.

Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia ingin menyatukan G20 dengan berupaya menciptakan perdamaian dan stabilitas karena menjadi kunci bagi pemulihan dan pembangunan ekonomi dunia.

Permintaan agar Zelenskyy diikutsertakan dalam forum G20, terutama disuarakan Amerika Serikat yang menginginkan Ukraina hadir dalam beberapa pertemuan dalam konferensi tingkat tinggi tersebut sebagai salah satu negara peninjau.

Negara-negara Barat juga meminta Indonesia untuk tidak mengundang Rusia ke pertemuan di Bali.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menolak berkomentar terhadap pernyataan China.

“(Kami) tidak bisa mengomentari sebelum ada feedback dari ibu Menlu yang bertelepon (dengan mitranya Menlu China Wang Yi),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah kepada BenarNews, Kamis (26/3).   

“Wajar dan tidak harus diakomodasi”

Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menganggap keinginan China tersebut wajar sebagai bagian dari kebijakan luar negeri negara itu, tetapi Indonesia juga tidak harus mengakomodasi kemauan Wang Yi.

“Yang pasti kita bebas aktif. Kita menjalankan segala sesuatu berdasarkan preseden-preseden sebelumnya,” kata Hikmahanto kepada BenarNews, Kamis.

Hikmahanto mengatakan sikap Indonesia sudah pada jalur yang benar dengan tetap mengundang semua anggota G20 tanpa terkecuali pada KTT di Bali pada November yang akan datang.

“Kalau Ukraina kita undang sama seperti Italia tahun lalu mengundang Singapura,” kata dia.

Menurut Hikmahanto, Indonesia sebagai tuan rumah memiliki diskresi negara mana saja, di luar anggota G20, yang mau diundang tetapi tidak memiliki hak untuk hadir dalam rapat anggota.

Duta besar Ukraina di Jakarta mengatakan dampak ekonomi dari sanksi Barat terhadap Rusia dan terputusnya rantai pasokan adalah masalah penting yang dihadapi ekonomi global.

“Konsensus penting”

Wang mengatakan, bahwa sejak awal tahun ini, Presiden China Xi Jinping dan Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo telah mengadakan dua kali pembicaraan via telepon dan mencatatkan konsensus penting.

“Saat tata kelola global telah memasuki ‘momen Asia,’ Indonesia, Thailand, dan Kamboja masing-masing akan menggelar konferensi multilateral, dan China juga sedang mempersiapkan penyelenggaraan Pertemuan Para Pemimpin BRICS,” ujar Wang, mengacu pada kelompok negara yang beranggotakan Brazil, Rusia, China dan Afrika Selatan.

Wang mengatakan China sepenuhnya mendukung dan secara aktif menyuarakan pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh tiga negara tersebut baru-baru ini.

Ketiga negara tersebut mengirimkan suara bulat bagi Asia untuk memperkuat solidaritas dan menghadapi tantangan bersama seraya menyerukan kepada negara-negara Asia agar berperan aktif dalam pembangunan yang damai dan stabil di kawasan dan dunia pada umumnya, kata Wang.

Wang dan Retno juga membahas masalah Ukraina, seraya menyerukan kepada komunitas internasional untuk melakukan upaya bersama demi meraih gencatan senjata, melanjutkan pembicaraan damai, dan membangun kembali perdamaian, sebut pernyataan China.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.