‘Bau Nyale’, Mencari Putri yang Hilang di Pantai Seger

Nyale sebenarnya adalah cacing laut kelas polychaeta. Namun, warga meyakini kemunculan cacing tersebut sebagai datangnya Putri Mandalika.
Anton Muhajir
Lombok Tengah
2017-02-20
Share
170217_ID_Nyale_1000.jpg Ribuan warga mencari cacing di Pantai Seger, Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 16 Februari 2017.
Anton Muhajir/BeritaBenar

Kelap-kelip lampu senter dan telepon seluler bak ribuan kunang-kunang di Pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis dini hari, 16 Februari 2017.

Pantai di sisi selatan Pulau Lombok itu riuh dengan suara lebih 10 ribu pengunjung padahal matahari belum muncul. Jarum jam masih menunjukkan angka 04:00 WITA.

Namun, gelapnya dini hari sama sekali tak menghalangi warga lokal untuk turun ke pantai berkarang itu. Sebagian besar bahkan sudah menginap di pantai pada malam sebelumnya.

Dengan membawa senter, alat untuk menangkap ikan (serok) serta panci maupun ember, mereka menyusuri pantai berpasir putih. Mereka semua mencari cacing yang oleh warga setempat disebut nyale.

Riuh ribuan pencari nyale bersahut-sahutan dengan ombak yang datang silih berganti.

Selamet Elen Riyadi, warga Kuta, termasuk yang datang di pagi buta itu ke pantai yang menghadap Samudera Hindia tersebut. Meski sesekali harus menghadapi kerasnya ombak, dia tetap bersemangat mencari nyale yang muncul di antara lubang-lubang pantai berkarang.

Saat matahari beranjak naik, satu per satu warga meninggalkan Pantai Seger. Pada pukul 7:00 WITA, warga yang tersisa hanya puluhan orang. Mereka pulang ke rumah untuk memasak nyale dengan kuah santan.

“Kami percaya makan nyale akan membawa nasib baik,” tutur Riyadi.

Menghilang

Nyale sebenarnya adalah cacing laut kelas polychaeta. Namun, warga meyakini kemunculan cacing tersebut sebagai datangnya Putri Nyale yang dikenal juga sebagai Mandalika.

Mamik Gatrah, pemuka adat Suku Sasak di Rembitan, sebuah desa di Lombok Tengah, mengatakan bahwa ritual mencari cacing laut (bau nyale) terkait erat dengan legenda Putri Mandalika.

Secara singkat, menurut legenda setempat, Mandalika terkenal akan kecantikannya hingga ke kerajaan lain. Tiga pangeran mau melamarnya. Namun, karena tidak mau memilih salah satu di antara mereka, Sang Putri memilih masuk ke laut di Pantai Seger.

Ketika tiga pangeran tiba di pantai, Putri sudah menghilang dan berganti dengan munculnya nyale. Lalu, terdengar suara bahwa jika ingin mencari Putri Nyale, mereka harus ke pantai itu pada tanggal 20 bulan 10 dalam kalender Sasak, waktu dia menghilang.

Pantai tersebut kini dikenal juga dengan kawasan Mandalika. Patung Putri Nyale dan tiga pangeran yang mengejarnya menjadi ikon kawasan itu.

“Ritual bau nyale bertujuan untuk mengingat dan menghormati Putri Mandalika,” kata Gatrah.

Dia menambahkan, dalam kalender Sasak, waktu munculnya Sang Putri Nyale hanya terjadi setahun sekali. Karena acuannya kalender Sasak, maka penentuan tanggalnya melalui rapat adat (sangkep) oleh pengurus desa adat.

Patung Putri Mandalika dan tiga pangeran di Pantai Seger, Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Foto diabadikan, 16 Februari 2017. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Satu-satunya di Indonesia

Menurut beberapa referensi, cacing laut polychaeta hanya muncul di pantai selatan Lombok dan Sumbawa untuk wilayah Indonesia. Di negara lain, cacing jenis ini muncul di Teluk Meksiko, Jepang, Perancis, dan Kepulauan Bermuda.

Nana Kartina, warga Desa Kuta, percaya nyale yang pertama kali didapat sangat bagus untuk kecantikan. Caranya menempel nyale itu di kening orang yang memperolehnya.

“Tidak hanya perempuan, laki-laki pun bisa tambah ganteng kalau melakukannya,” ujarnya sambil tertawa.

Warga juga percaya nyale berguna untuk kesehatan. Seperti halnya Nana, warga memasak nyale dengan cara dipanaskan lebih dulu dalam wadah daun kelapa muda (janur). Setelah nyale agak kering, barulah dimasak dengan kuah santan dan perasan jeruk nipis.

“Kandungan gizinya tinggi,” tambahnya.

Sebagian warga juga membuang janur sisa pembungkus nyale yang dipanggang itu ke sawah agar tanahnya subur.

Legenda Putri Nyale turut berpengaruh dalam budaya Sasak, termasuk di Desa Sade, yang terkenal sebagai desa adat dan salah satu lokasi wisata di Lombok.

Bagi, seorang warga Desa Sade mengatakan, gadis-gadis di desanya sudah lumrah memiliki pacar sampai tiga orang. Saat akan menikah, dia kemudian mengundang ketiga pacarnya ke rumah dan memutuskan pilihannya di depan mereka.

“Itu sudah menjadi bagian tradisi kami,” kata Bagi.

Festival

Karena kemunculan sekali setahun, bau nyale dirayakan sebagai festival pariwisata. Selama seminggu, berbagai kegiatan pariwisata diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Tengah, termasuk surfing, wayang, musik daerah, dan kejuaraan bela diri Sasak.

Festival Bau Nyale melengkapi pesona daerah Mandalika. Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC) menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari 10 destinasi wisata baru di Indonesia. Beberapa hotel bintang lima pun sudah berdiri selain homestay dan villa.

Selain dua hari puncak festival di Pantai Seger, juga digelar pawai budaya di Praya, ibukota Lombok Tengah.

Ribuan warga dari desa-desa sekitar Mandalika, seperti Sade, Kuta, dan Rembitan berduyun-duyun datang. Selama dua malam mereka begadang di Pantai Seger agar bisa menyambut datangnya Sang Putri.

Warga tidur di pasir atau tenda sepanjang pantai karena mereka tak mau melewatkan Sang Putri Nyale yang hanya datang dua hari pada dini hari hingga jelang matahari terbit, sebelum ia menghilang.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya