Enam Provinsi Masih Siaga Darurat Kabut Asap

M. Sulthan Azzam
2015.09.09
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150909_SUMATRA_FIRES_620.png Sejumlah pengendara melintas di jalan utama Pekanbaru, Riau, yang diselimuti kabut asap pekat, Rabu, 9 September 2015. Udara di kota itu sudah berada pada level berbahaya.
BeritaBenar

Sudah seminggu lebih Danish harus berdiam diri dalam kamar. Murid sekolah dasar di Kota Pekanbaru Riau ini tak diizinkan orang tuanya bermain di luar rumah, karena kabut asap semakin pekat.

Kabut asap tersebut membuatnya sesak nafas. Ia pernah beberapa kali keluar rumah, tapi setelah itu harus terbaring sakit.

“Sekarang, saya tak izinkan lagi anak bermain diluar rumah. Cukup di dalam kamar saja,” kata Denni Risman, orang tua Danish kepada BeritaBenar Rabu, 9 September siang.

Menurut Denni, kondisi kabut asap di Pekanbaru sudah sangat berbahaya. Pekatnya asap membuat jarak pandang sangat terbatas. Kualitas udara di Pekanbaru pada angka 572 indeks standar polusi (PSI) yang artinya berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Jarak pandang menurut penglihatan saya sudah dibawah 100 (meter).  Bukan tidak sehat lagi, tapi sudah berbahaya. Kalau ibarat gempa, warga kota harusnya sudah dievakuasi, karena tsunami sudah di depan mata,” kata Denni.

Buruknya kondisi di Pekanbaru menyebabkan hampir seluruh aktivitas warga lumpuh. Kegiatan belajar mengajar di sekolah semua tingkatan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA kembali diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Bahkan perguruan tinggi juga meliburkan mahasiswanya.

Aktivitas di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru juga terganggu. Sebagian besar penerbangan mengalami penundaan. Bahkan beberapa hari lalu penerbangan dialihkan ke Padang.  Warga yang hendak bepergian dengan menggunakan pesawat terbang tujuan Jakarta, Medan atau Batam harus rela naik kendaraan ke Padang terlebih dahulu dengan waktu tempuh antara 7 hingga 8 jam.

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan ini juga berdampak ke Malaysia dan Singapura. Malaysia melaporkan tiga kawasannya berada pada level tidak sehat.

Penyakit mulai berjangkit

Kepada BeritaBenar Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengaku sudah berbicara dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Williem Rampangilei, tentang penanganan kabut asap. Namun dia menolak desakan dari publik agar Riau segera menaikkan status Siaga Asap menjadi Tanggap Darurat.

“Kita tunggu dulu apa arahan Kepala BNPB,” kata Arsyadjuliandi Rachman.

Arsyadjuliandi mengaku telah memerintahkan Dinas Kesehatan setempat untuk membagikan masker kepada masyarakat guna menekan risiko jumlah korban akibat kabut asap.

“Sudah lebih 200 ribu masker yang kita bagikan kepada masyarakat. Masih ada stok 70 ribu lagi,” katanya.

Data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyebutkan, sebanyak 15.234 masyarakat Riau terjangkit penyakit akibat kabut asap. Sejak 29 Juni lalu hingga 7 September 2015 penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mencapai 12.262 orang, pneumonia 324 orang, asma 513 orang, iritasi mata 879 orang dan iritasi kulit 1.256 orang. Jumlah ini bisa terus bertambah jika kabut asap terus berlangsung.

Selain Pekanbaru, Jambi juga termasuk provinsi yang sangat mengkhawatirkan akibat kabut asap ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jambi telah mencatat semakin banyak warganya yang terkena ISPA.

“Kabut asap semakin pekat. Ada lebih 22 ribu warga kita yang terserang penyakit ISPA,” sebut Arif Munandar, Kepala BPBD Jambi kepada BeritaBenar Rabu sore.

Sejak beberapa hari terakhir tidak ada pesawat komersil yang tiba ataupun berangkat dari Bandara Sultan Thaha Jambi. Penerbangan dari Bandara Sultan Thaha dialihkan ke Palembang, Sumatera Selatan.

Sumbar memprotes kabut asap kiriman

Pergerakan angin yang bertiup ke arah tenggara menyebabkan kabut asap juga menimpa masyarakat yang tinggal di Padang, Sumatera Barat. Meski tidak ada titik api atau kebakaran lahan di daerah tersebut, namun kabut asap kiriman provinsi tetangga membuat warga tidak nyaman beraktivitas.

Karena terganggu, Penjabat Gubernur Sumatera Barat, Reydonnyzar Moenek mengadukan provinsi yang memproduksi asap kepada Presiden Joko Widodo agar diberikan tindakan tegas. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga mengajukan nota komplain pada Pemerintah Provinsi Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Presiden diharapkan memerintahkan Kapolri menuntaskan pelaku pembakaran hutan dan lahan.

“Jelas kita komplain dengan kondisi seperti ini. Ini juga akan saya sampaikan dalam pertemuan se-Indonesia, agar pengusaha pelaku pembakaran hutan ditindak tegas. Agar kita tak dikirimi asap lagi,” kata Moenek kepada BeritaBenar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, kabut asap menutup hampir 80 persen pulau Sumatera. Dari pantauan satelit Modis, tampak terdapat 413 titik api di Sumatera. Di Jambi sendiri tercatat ada 170 hotspot.

“Indeks Standar Pencemaran Udara atau ISPU disana berada di angka 216, atau sangat tidak sehat,” kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada BeritaBenar melalui pesan Blackberry.

Upaya penanggulangan berlanjut

Sutopo menjelaskan, enam provinsi masih menyatakan status Siaga Darurat Asap hingga kini. Keenam provinsi itu adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Pemerintah, kata dia, terus berusaha melakukan empat strategi dalam operasi darurat asap. Yakni hujan buatan dan pemboman air dari udara, pemadaman di darat oleh tim gabungan, operasi penegakan hukum oleh Polri dan penyidik pegawan negeri sipil (PPNS )serta adalah pelayanan kesehatan dan sosialisasi kepada masyarakat.

Pada hari Sabtu lalu Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan 10 perusahaan terindikasi melakukan pembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan dan kasusnya masih diselidiki.

Sementara itu, Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) memperkirakan kerugian sektor pariwisata akibat kabut asap di tiga provinsi, Sumatra Selatan, Jambi dan Riau mencapai Rp 5 miliar per hari dengan perkiraan jumlah wisatawan mancanegara 5.000 orang yang mendatangi daerah itu.

"Masa selama 18 tahun persoalan kita belum lari dari kabut asap. Kami minta pemerintah benar-benar mengawal kondisi ini," keluh Ketua Asita Asnawi Bahar kepada BeritaBenar.

Dengan asumsi spending money Rp 1 juta saja sehari, dari 5 ribu kunjungan wisatawan itu sudah rugi Rp 5 miliar sehari,” kata Asnawi yang juga Ketua Kadin Sumatera Barat.

Menurutnya, jika bencana kabut asap masih berlangsung panjang, maka dampaknya juga akan mengganggu perekonomian masyarakat secara luas, terutama sektor perdagangan dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Harapannya tentu saja, persoalan kabut asap segera bisa ditangani, sehingga target kunjungan wisatawan mancanegara 10 juta orang ke Indonesia tahun ini bakal tercapai.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.